Tampilkan postingan dengan label Maydivani Pratiwi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Maydivani Pratiwi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 November 2020

Hancur

 Oleh: Maydivani Pratiwi

             Orang yang awalnya membuat aku berpikir bahwa dia yang saya cari, dia berbeda dengan orang sebelumnya, harus dia, hari ini telah meruntuhkan semua harapan itu dalam sekejap. Semua harapan yang kubangun dengan sedemikian rupa maupun bentuk, hancur oleh orang yang memberiku harapan itu. Semua yang kubayangkan akan terjadi di masa depan nanti bahkan sudah tak sudi lagi untuk singgah bahkan lewat di pikiranku, semuanya hancur lebur tak bersisa. Tak ada lagi harapan yang tersisa diotakku, semuanya tercerai berai seperti air yang ditumpahkan minyak. Dan kurasa memang dari dulu aku sudah tak pantas untuk membangun harapan, bahkan untuk mencobanya saja pun tak boleh, tapi aku tetap melakukannya.

            Semua yang kulakukan selama ini memang tak ada artinya dari awal, tak ada celah bagiku. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya dari awal tapi aku menghiraukannya, kurasa memang takdirnya sudah seperti ini. Dia memang belum menjadi apa-apa, tapi bagiku itu sangaaaaatttt berarti, sudah seminggu, tidak terasa. Hari pertama kenal ia begitu manis, aku sampai tak bisa mengalihkan perhatianku padanya. Dia selalu manis tiap harinya, dan aku tak pernah melewatkan itu, semua kuabadikan dan kusimpan permanen dalam otakku lalu kuberi peringatan agar tidak ada orang yang boleh mengganggu gugatnya. Sampai pada akhirnya sebuah kenyataan yang bernama pahit itu berhasil masuk dan merusuh dalam memori itu, memorinya sudah rusak semua isinya masih ada namun tak berbentuk utuh. Kucoba merangkai lagi namun satu bulir air mata berhasil lolos, dasar payah, lemah.

             Hanya karena semuanya tak sesuai ekspektasi aku sampai seperti orang paling tersakiti (hari itu), sampai sekarang aku tak bisa berenti menyebut diriku lemah. Aku sudah berjanji tak ingin seperti ini lagi, tapi aku tak bisa mengelak dan aku tidak bisa munafik akan hal ini. Hari ini dia berhasil membuatku bagai orang paling bahagia saking bahagianya membuatku seperti orang gila, dan berakhir menjadi orang lemah (lagi). Saat ini aku hanya butuh istirahat, biarkan seperti ini dulu aku hanya lelah, bukan menyerah. Tapi dia hebat bisa meruntuhkan sesuatu dalam sekejap bahkan hanya dalam beberapa kalimat, apakah perlu kukasih penghargaan? kurasa tidak usah, nanti jadi besar kepala, huftt. Saat ini aku hanya bisa memandang jam yang terus berputar berharap dia berputar dengan cepat agar hari esok cepat tiba. Aku selalu berharap jika aku lemah hari ini, kumohon untuk hari esok aku langsung bisa melupakannya dan bisa menjalani hari dengan sangat baik. Ini sudah tengah malam cerita ini mungkin kupost besok saja, ditemani alunan lagu melow yang sebenarnya membuatku ingin menangis lagi tapi tetap kudengarkan, dan dengan charger yang tetap tercolok. Tanpa terasa sudah pergantian hari dan mata ini masih enggan untuk tertutup, mmm kurasa sebentar lagi aku masih ingin memikirkan sesuatu, jam 12:47, aku pamit.

Sabtu, 07 November 2020

Mati Rasa

 Oleh : Maydivani Pratiwi


              Rasanya sudah mati rasa, saya mengungkap semuanya.  Hal yang ingin kututup rapat sehingga tak ada seorangpun yang tau berakhir terungkap oleh diriku sendiri. Seperti diujung tanduk, putus asa, bingung, dan merasa sudah tak pantas. Lagi-lagi saya tetap membenci situasi ini, situasi dimana saya merasa serba salah. Mau mundur rasanya sedikit berat, seperti ada beban yang saya pikul di pundak saya, tetapi jika mau maju saya takut akan lebih banyak beban yang saya pikul, tapi saya belum tau itu apa dan saya belum dan tidak tau apa yang akan terjadi jika saya maju.

         Tanpa saya sadari hari itu menjadi titik terendah saya, menangis dalam sholat. Yaa, saya memohon doa pada yang diatas berharap Allah mendengar doa dan langsung mewujudkannya saat itu juga. Rasanya beban yang saya pikul mulai mereda setelah melampiaskan semuanya dengan menceritakan segalanya pada Yang Kuasa. Hari itu entah berapa kali air mata saya menetes dengan deras tanpa henti karena alasan yang berbeda-beda. Saya sangat bingung harus apa, semuanya terasa buram,blur,lalu gelap. Tak ada pencahayaan, tak ada kepastian, bahkan pijakan pun tak ada, semuanya terasa fatamorgana. Seperti berjalan diatas air lalu tenggelam kedalam lautan yang sangat dalam.

           Tapi saya sadari saya tak boleh begitu terus, itu hanya akan menjadi luka untuk saya, seperti menggenggam sebuah durian yang penuh dengan duri. Cukup biarkan dan diamkan,biarkan semesta yang mengatur semuanya, walau mungkin kenyataan yang diberi semesta sangat pahit tapi kita tetap harus menelannya, seperti meminum obat yang sangat pahit tetapi obat itu bisa menyembuhkanmu dengan total. Semesta mungkin jahat sangat jahat, sampai kita lupa bahwa semesta akan tetap memberi kita kebahagiaan setelah memberi kita luka, cukup percayai itu. Tetap positif dan nikmati hidup.

Senin, 19 Oktober 2020

Satu Hari

 Oleh : Maydivani Pratiwi

              Satu hari itu, satu hari dimana dia membuatku merasa seperti orang spesial, dan satu hari yang terasa 1 abad. Satu hari dimana dia mengabulkan keinginan yang tidak pernah terucap oleh mulut ini, dan entah darimana dia mengetahuinya. Satu hari itu menjadi sangat berharga dan membekas dipikiranku sampai saat ini, sungguh. Sampai detik ini rekaman malam itu masih terputar dan terpampang jelas di pikiranku, dan aku tak tau cara mematikannya bahkan untuk mempausenya aku tak kuasa, segalanya terasa sangat sia-sia jika aku mematikan rekaman itu dan melupakannya. Saat itu dia datang yang kukira dia tak kan kembali lagi setelah menghilang, ternyata dia datang untuk menyapa.

                   Sapaan itu menjadikan ruang chat yang sempat terhenti menjadi terlanjut dan terasa hangat. Dan aku merasa aku menyimpan perasaan. Satu hari itu dia menjadi sangat hangat,kedinginan malam itu jadi tak terasa karena kehadirannya. Satu hari itu dia seperti menjadi seorang pangeran. Malam itu aku tak bisa tidur, dan kau menemaniku hingga ku tertidur lelap, yaa memori itu yang sampai sekarang tak ingin pergi dari pikiranku. Entah penghapus merek seperti apa yang bisa menghapuskan memori malam itu, kalau ada aku ingin membelinya sekarang juga. Benar-benar memori itu sangat membekas seperti diriku telah mengalami kecelakaan parah dan mendapatkan luka yang susah hilang,bahkan bisa jadi tidak akan pernah hilang.  Sampai pada akhirnya, dia menghilang.

                 Semua yang telah terjadi hari itu hanya berlangsung singkat, seperti sebuah film pendek tanpa adanya season 2. Ada yang bisa memberiku jawaban tentang pertanyaanku ini? mengapa yang bahagia-bahagia itu tak pernah berlangsung lama ataupun abadi? kumohon beri aku jawaban. Aku bahkan sudah memberanikan diri untuk menanyai langsung pada orangnya, aku salah apa? kenapa kau berubah? tapi sampai sekarang aku belum mendapatkan jawabannya. Sekarang aku seperti di ujung jurang, jika aku ingin maju kedepan mungkin aku akan jatuh dan terluka, tapi jika aku mundur kebelakang aku bisa bebas tapi tanpa tujuan dan bingung harus kemana. Bingung sekali kenapa hanya karena 1 orang aku merepotkan otakku untuk berpikir, sudah kubilang berkali-kali dicerita ku yang sebelum sebelumnya, aku ini bodoh, dan entah kapan sikap bodoh itu hilang, kuharap ada orang yang akan bisa menghilangkan sikap bodoh itu, semoga.

Sabtu, 10 Oktober 2020

Bodoh

 Oleh : Maydivani Pratiwi 

                 Boleh saya meminta waktumu sebentar? 2 jam saja mungkin sudah cukup. Selama ini kami tak pernah bertukar cerita sampai selama itu, kamu terus menghilang,menghilang,dan menghilang. Kamu selalu datang dengan manis dan menghilang dengan pahit. Kurasa saya memang sudah mati rasa setelah semua yang telah saya lalui, bisa-bisanya saya yang dulu selalu ingin diperhatikan menjadi tak peduli dengan hal itu. Saya selalu berpikir jika saya memang penting untuk dia, dia pasti akan datang dengan sendirinya tanpa saya beri undangan. Mungkin setelah semua yang terjadi saya mulai berpikir terbuka dan mulai lebih dewasa, kurasa seperti itu.

               Mungkin jika dipikir-pikir, saya ini bodoh sekali, membiarkan saya menyakiti diri saya sendiri, membunuh waktu yang seharusnya bisa saya pakai untuk hal yang lebih berguna daripada "Menunggu". Saya tidak pernah membiarkan diri saya sendiri memikirkan bagaimana perasaan saya hancur karena perbuatan bodoh ini. Saya hanya takut melukai perasaan orang lain tanpa saya sadari bahwa sebenarnya yang saya lakukan yaitu melukai diri saya sendiri. Saya heran mengapa saya sangat betah seperti ini,mungkin saya memang sudah tak peduli lagi dengan apapun itu, asalkan ada orang yang masih mau menerima saya, saya pasti melakukannya lagi dan lagi tanpa mengetahui bagaimana perasaan saya. Saya selalu ingin mengatakan saya tak ingin seperti itu lagi, tapi mungkin memang sifat itu sudah mendarah daging. Saya selalu mengatakan tak ingin lagi membuka pintu untuk seseorang, tapi tetap saja jika ada yang mengetuk saya selalu mempersilahkannya masuk, so stupid.

                    Sampai saat ini saya belum menemukan apa yang saya inginkan. Yang saya temui selalu saja berbeda dengan yang ada dipikiran saya, yang saya inginkan selalu pergi menghilang dan tak pernah kembali. Mungkin memang terdengar menyedihkan tapi begitulah adanya. Sebuah kata "Salam Kenal" pasti akan selalu berakhir dengan kata "Selamat Tinggal" takkan pernah ada yang abadi. Mau bagaimanapun usaha kita untuk mempertahankan seseorang, jika orang itu sudah tidak ingin ya sudah tinggalkan, dia tidak baik untukmu. Mungkin kau memang harus merasakan yang namanya kegagalan berkali kali sebelum yang memang untukmu datang. Akan ada masanya memang semesta sangat jahat dengan diri kita, tapi saat semesta sudah membiarkanmu bahagia, kau akan sangat bahagia sampai kau tidak ingin melupakannya, trust me. Dan yaa begitulah otak saya berbicara, otak yang terus menasihati saya bahkan saat diri saya tak pernah menghiraukannya. Mungkin suatu saat nanti saya akan memulai semuanya dengan "otak",yang saya harap semoga saya bisa.

Selasa, 29 September 2020

Belajar Bersyukur

 Oleh: Maydivani Pratiwi

           Selalu saja seperti ini, semua yang direncakan dan saya sudah usahakan bahkan sampai batas kemampuan saya pun takkan pernah berjalan lancar. Mau bagaimanapun usaha saya tetap saja akan berakhir hancur. Saya tak mengerti, apakah saya pernah melakukan dosa yang sangat besar sampai sampai saya diperlakukan seperti ini. Saya bahkan sudah sangat memohon mohon tapi tetap saja. Saya sudah sangat nyaman seperti ini, tapi mengapa, dunia seakan takkan pernah berpihak pada saya. Dunia seakan membenci saya karena sesuatu,dan saya tak tau apa itu.

              Saya tahu Tuhan akan memberi saya sesuatu yang lebih baik daripada ini, tapi kenapa, kenapa saya harus melalui ini semua dulu, kenapa saya harus membuat hati saya hancur sehancur-hancurnya dulu. Sampai sekarang saya sudah tak tahu sekebal apa hati saya nanti saat saya sudah sangat sering seperti ini. Apakah saya akan tetap gelisah atau saya akan like i don't care brou, kamu tidak ada apa-apanya, saya sudah sering seperti ini, mau bagaimana kau menghancurkannya saya tak peduli, dengan memasang muka songong. Bukannya saya tidak bersyukur tapi saya juga ingin merasakan rasa yang seperti orang-orang bilang hati berdegup kencang karena seseorang. Saya selalu memohon pada Tuhan untuk mengirimkan orang yang memang untuk saya, tapi saya bingung kenapa Tuhan tetap mengirimkan saya orang yang salah, apakah Tuhan mencoba menseleksi saya?

              Sampai pada akhirnya saya sadar semua yang saya pikirkan diatas itu salah, dan itu bodoh, sangat bodoh. Masih banyak orang yang merasakan hal yang seperti saya rasakan, bahkan ada yang lebih dari ini. Saya hanya perlu bersyukur dan menikmati hidup saja, untuk apa saya memikirkan sesuatu yang tidak untuk akhirat? ahh bagaimana bisa saya melupakan hal itu. Saya masih diberi kesempatan hidup, saya masih diberi kesempatan bertemu dengan banyak orang baik, seharusnya saya harus lebih bersyukur bukan malah mengeluh seperti anak kecil, saya memang sangat bodoh. Masih belum saatnya untuk saya memikirkan hal yang tidak penting untuk kehidupan saya, hidup saya tidak hanya seputar tentang masalah hati saja, masih banyak hal yang belum saya rasakan, dan semoga saya bisa melaluinya. Saya percaya Tuhan takkan pernah memberi cobaan pada Hamba-Nya diluar kemampuan Hamba-Nya, dan saya percaya Tuhan takkan pernah meninggalkan Hamba-Nya saat Hamba-Nya sedang terpuruk. Melihat Hamba-Nya menopangkan tangan keatas dan berdoa saja sudah membuat Allah SWT. sangat bahagia, apalagi Hamba-Nya percaya bahwa ia pasti mendengar setiap doa-doa yang Hamba-Nya kirim. Cukup percaya pada kekuasaan yang diatas dan belajar bersyukur.

Senin, 21 September 2020

Memilih Mundur

 Oleh: Maydivani Pratiwi

                Saya mundur, kenyataan bahwa semuanya memang telah berbeda dan tak akan pernah ada kesempatan bagi saya telah berhasil membuat saya resah. Dia masih orang yang sama dengan yang saya ceritakan di 2 cerita sebelum ini,yang seharusnya masih banyak cerita tentang dia yang ingin saya ceritakan, namun saya memilih mundur mulai detik ini. Banyak kata-kata yang sudah saya persiapkan untuk saya post sebagai cerita, namun saya rasa semuanya sudah cukup. Saya mulai merasa lelah dengan semuanya, lelah dengan semua usaha yang saya lakukan yang bahkan sampai sekarang hasilnya tak pernah nampak. Semua yang saya lakukan selama ini hanya sia-sia.

             Semua perkataan manis yang ia katakan dulu memang pernah membuat saya sebegitu senangnya, namun kini sudah berbeda. Sudah saya katakan ini semua takkan berlangsung untuk selamanya, penantian saya tak akan untuk selamanya, akan ada suatu ketika saya mulai merasa lelah, saya mulai merasa tak dihargai, merasa tak pantas, dan itu terjadi detik ini. Mungkin akan sulit namun saya akan mencoba, lebih baik daripada harus melukai diri sendiri yang bahkan jika dipikir pikir itu memang sebuah kelakuan yang bodoh, menunggu seseorang yang bahkan sudah tak melihatmu lagi? itu sangatlah bodoh. Mungkin jika ia kembali saya akan tetap meladeninya, tapi tidak tau dengan perasaan saya,apakah akan tetap sama seperti dulu atau perasaan itu telah lenyap untuk selamanya.

                  Ruang chat yang dulunya selalu diisi dengan obrolan yang random oleh dua manusia, telah menjelma menjadi ruang chat yang sepi tanpa penghuni. Rencana dan kata-kata yang dulu sempat ia ucapkan semuanya telah dibawa terbang oleh angin yang berhembus kencang, semuanya hancur. Saya pikir tak akan ada lagi orang yang selalu membuat saya gelisah saat malam karena tak adanya kabar, tapi saya selalu percaya Tuhan selalu memiliki rencana yang lebih baik, Tuhan pasti tau mana yang baik untuk saya dan mana yang buruk, makanya Tuhan membuat dia menghilang agar saya mendapatkan orang yang lebih baik untuk saya. Saya hanya tinggal menunggu dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang  saya harap semoga saya bisa mengambil sisi positifnya, saya tak boleh menjadi orang pendendam, kalau saya melakukan apa yang selama ini telah ia lakukan kepada saya, itu sama saja kalau saya seperti dia,saya tak ingin seperti itu. Dan semoga semua kenangan yang baik maupun kenangan yang buruk itu tidak menghantui saya. Dan satu lagi terima kasih untuk dirinya yang sudah baik kepada saya, yang telah membuat saya merasa nyaman. Terima kasih orang baik, jaga kesehatan, baik-baik disana, bahagia yaa.

Kamis, 17 September 2020

Berbeda

 

 Oleh: Maydivani Pratiwi

                     Ini untuk dirinya yang selama 2 minggu terakhir ini telah berhasil memenuhi pikiranku tanpa henti. Aku tau rentetan abjad-abjad yang aku tulis saat ini tak akan dibaca olehnya, aku juga tak mungkin berani untuk mengungkapkannya langsung, jadi izinkan aku untuk menulis semuanya disini. Sebuah perasaan yang mungkin mustahil akan terbalas memang menyakitkan, harus kuakui hal itu bisa membuatku sebegitu tidak tenangnya, sampai-sampai aku menciptakan deratan- deretan kalimat panjang yang mengandung makna. Semuanya terasa berbeda saja, dia sudah tak seperti orang yang dulu kukenal, orang asing yang dulunya memperkenalkan diri lewat obrolan chat, membuatku ingin berkenalan ulang saja. Dia yang dulunya selalu berusaha ada saat aku membutuhkannya, kini terasa seperti kita tak pernah kenal sebelumnya, bahkan untuk menyapanya aku tak kuasa, dia menjelma menjadi orang asing buatku.

                       Dia pernah berkata tidak akan menghilang, namun itu hanya sekedar "kata-kata", setelah dia menghilang dalam sekejap akhirnya dia mengaku salah telah mengucapkan hal-hal manis tanpa mengetahui isi hati dia dahulu yang sebenarnya, dan itu membuatku merasa lebih baik, dia juga berkata tidak ingin mengakhiri semuanya. Namun lagi-lagi itu hanyalah sekedar "KATA-KATA", haha lucu sebenarnya, semua yang dia katakan selama ini itu hanya jarinya saja yang bergerak diatas layar, bukan hatinya yang menjawab. Kini aku ingin menertawai diriku sendiri yang telah sangat larut dalam dialog yang dia buat. Aku sudah tak tau sekarang, aku benar-benar ingin keluar dari pentas seni ini, tapi rasanya sangat sulit dan berat. Mengingat betapa orang yang dulu namanya selalu ada dalam doaku kini telah pergi tanpa adanya kata "Pamit", pergi dan hanya menyisakan kenangan dan luka yang entah akan membekas atau akan hilang. Aku sangat bingung mau bagaimana lagi sekarang, keadaan seakan memaksaku untuk berjalan sendirian tanpa ada dirinya lagi.

                        Aku bingung entah mau pergi kemana lagi, mencoba untuk biasa-biasa saja sudah sulit. Ada suatu saat aku bisa melupakan dirinya, tapi dia seakan selalu bisa membuat usahaku gagal lagi dan lagi. Dia tak pernah bisa hilang dari pikiran ini,kadang aku benci pikiranku sendiri. Pernah suatu saat dia membuat pertahananku hancur lagi, dia muncul dengan kata "Semangat" dan yaaa itu sukses membuatku terjaga sampai tengah malam. Aku hanya bisa mengatakan apa kabar,jaga kesehatan,jangan lupa makan dan semoga bahagia, hanya itu yang bisa aku katakan, jari ini enggan menulis apa yang selama ini ada dihatiku. Kalimat sederhana yang mampu membuatku kepikiran lagi dan lagi. Kenangan itu memang jahat yaa, dia akan selalu ada tanpa diberi tahu. Dia selalu datang tanpa permisi lalu pergi dalam sekejap dan datang kembali. Kenangan itu seakan memang diberi takdir untuk terus menghantui orang-orang yang mungkin bisa dibilang "masih belum bisa melupakan". Aku selalu ingin bilang "Aku masih disini, menunggu seperti orang bodoh entah sampai kapan,jika kau ingin melihat kembali kebelakang aku akan ada untukmu",yaa benar aku masih menunggu dan masih berusaha, tapi satu hal yang harus dia tau, ini tidak untuk selamanya.

Sabtu, 12 September 2020

Harapan

Oleh: Maydivani Pratiwi 

                     Ini cerita tentang dia yang belum pernah aku temui, seorang pria yang menjebakku dalam sebuah kenyamanan yang tak berujung. Dia pria yang biasa saja, sangat biasa saja tapi dia bisa membuatku merasakan yang namanya "nyaman", aneh bukan?. Dia datang bak seorang pangeran berkuda putih yang ingin menyelamatkan seorang wanita desa yang kesepian, tetapi pada saat aku berpikir dialah orang yang aku cari,dia pergi karena seorang tuan putri yang elegan dan cantik dimatanya. Aku tak habis pikir kenapa dia datang hanya untuk pergi, membuatku bingung harus menyuguhkan kopi atau hati. Nama yang awalnya terdengar biasa saja bagiku, menjelma menjadi nama yang terdengar spesial. Aku bahkan sudah tak bisa berharap lebih padanya, karena sebuah perbedaan antara aku dan dia yang sangat jauh.

                   Dia bagaikan sebuah daging didalam sup dan akulah kentangnya. Aku tidak ada apa-apanya dibandingkan semua orang yang mendekatinya. Saat kuungkapkan perasaanku dia berkata "Aku juga" tapi itu hanyalah sebuah tulisan abjad, tidak lain dan tidak bukan. Dia berkata itu tanpa bertanya dulu pada isi hatinya, apakah kata "Aku juga" itu berasal dari hatinya atau hanya jarinya sahaja yang bergerak diatas layar tanpa adanya campur tangan perasaan?. Aku bingung harus seperti apa lagi, semua sudah kulakukan. Dia bagaikan capung yang gemar terbang kesana kemari jika ingin kutangkap, terkejar tapi tak tergapai olehku. Dia mengatakan hal manis bak seorang yang memiliki hati, dia berkata "Sayang" bak seorang yang menyimpan perasaan. Hadirnya adalah suatu kebetulan, dan aku menyukainya adalah suatu kesalahan. Aku menaruh harapan pada sesuatu yang tidak mungkin kumiliki,bodoh bukan? .
 

                     Memilikinya adalah halusinasi, dia objek yang nyata, namun terasa fatamorgana. Lucu, ketika hanya dengan mengobrol lewat chat tanpa pernah ada tatap muka, dua insan bisa saling jatuh cinta, dan tau apa yang lebih lucunya lagi?, apabila yang satunya merasa jatuh cinta dan yang satunya lagi merasa "Biasa saja". Ingin rasanya mengulang dari awal untuk mengingatkan diriku sendiri untuk tidak terlalu cepat menaruh harapan,tapi itu bukan salahku,kenapa? karena "bukan aku yang memulai". Sampai pada akhirnya dia meminta maaf karena telah membuatku tertarik tanpa adanya pertanggung jawaban, dia mengaku salah. Awalnya kukira setelah dia meminta maaf dia akan menjauhi ku, nyatanya dia yang tidak ingin mengakhiri semua ini. Tapi pada akhirnya semuanya sama saja,dia tetap menghilang lagi dan lagi seperti tertelan bumi. Sekarang kita hanya sebatas "teman" tidak lebih dan tidak kurang, cukup baik daripada harus selalu terpikir dengan sesuatu yang tidak penting. Dia baik sudah menemaniku sampai saat ini,dan aku sudah menyampaikan rasa terima kasihku padanya. Tuhan juga baik telah "Mempertemukan" kita berdua walau tidak "Mempersatukan".

Sabtu, 05 September 2020

Sebuah Jawaban

 Oleh : Maydivani Pratiwi

                  Yang membuat saya lemas kali ini adalah saat dimana suasana yang paling tidak saya inginkan kembali lagi menyapa diri saya, saat dimana saya tidak bisa apa-apa lagi, saat dimana saya kebingungan,dan semua pikiran- pikiran dan pertanyaan-pertanyaan terus berganti posisi untuk memutari otak saya tanpa henti. Pikiran pikiran yang selalu menyebar seperti puzzle dan tentunya selalu memaksa saya untuk memecahkannya sendiri. Saya tak mengerti kenapa saya selalu sangat lemah dalam hal seperti ini.

                  Saya sudah sangat mencoba untuk mempertahankan,berusaha agar orang lain tidak kesulitan, sampai membuat saya melampaui batas kemampuan saya, namun itu semua tetap tidak ada artinya. Saya bahkan sudah berusaha merubah diri tapi tetap saja tidak ada yang berubah. Berdoa sebanyak mungkin pun tak akan bisa merubah segala hal yang telah terjadi, itu semua sudah Allah rencanakan. Saat saya sedang kacau, saya selalu mengingat kata-kata yang mengatakan "Semua orang mempunyai porsi dan waktunya masing-masing, jadi bersabarlah",dan itu lumayan membuat saya tenang walau sebentar.

                        Dan sekarang saya sudah merasa lebih baik, saya bersyukur bisa dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Saya juga bahkan telah mendengarkan apa yang ingin saya dengar dari sudut pandang orang lain, dan itu membuat saya merasa lebih baik. Saya sudah lumayan tenang sekarang, semuanya sudah jelas, pertanyaan-pertanyaan yang selalu muncul diotak saya telah menemukan jawabannya masing-masing. Puzzle-puzzle yang teracak telah bersatu dan menjadi sebuah jawaban yang utuh. Saya sudah cukup senang dengan keadaan yang sekarang,semua yang telah terjadi hanya saya jadikan sebagai pelajaran bukan sebagai sesuatu yang membuat saya berhenti melangkah.

Sabtu, 29 Agustus 2020

Lily

 

 Oleh: Maydivani Pratiwi

            Dibawah teriknya matahari, samar-samar aku melihat sesosok anak kecil yang terlihat sedang kebingungan. Dia terlihat sedang mencari sesuatu, matanya yang terus melihat kesana kemari membuatku penasaran, namun aku tak berani mendatanginya. Kulitnya yang putih, matanya yang berwarna biru,berambut coklat dan bibir yang pucat,"orang asing" pikirku. Kalau sudah berhubungan dengan orang asing aku benar-benar tak berani. Namun, lama-kelamaan dia terlihat sedih karena tidak menemukan sesuatu yang telah menjadi alasannya untuk berdiri di bawah terik panas matahari siang ini.

              Karena kasihan dan entah keberanian siapa yang merasuki tubuhku untuk mendatangi anak kecil itu akupun berjalan,langkah demi langkah. Awalnya kupikir dia kehilangan orang tuanya saat bermain, namun setelah kutanyai ternyata dia yang ditinggalkan. "kasihan, padahal dia anak yang cantik" pikirku, "makasih kak" sambil tersenyum dengan menampilkan gigi putih rapinya,aku terkaget dengan pernyataan itu, aku sangat yakin kalau aku mengatakannya dalam hatiku, namun aku tetap tenang agar suasana tidak terasa canggung. Saat kutanyai namanya, dia berkata "Lily",namun aku heran kenapa dia ditinggalkan. Karena rasa penasaran yang dari tadi telah merasuki jiwaku, aku bertanya apa yang telah terjadi.

              Dia menceritakan semuanya dari awal,dimulai saat dia berangkat bersama dan bermain bersama ibu dan ayahnya. Namun ditengah kesenangan itu dia ditinggalkan dengan alasan mereka ingin membeli sesuatu untuknya, dia sangat senang dan tidak sabar menunggu mereka kembali,tapi mereka tidak kembali. Dia sudah sangat ingin menangis tapi dia diajarkan oleh ibunya untuk kuat,jadi dia menahannya. Setelah mendengar semua ceritanya aku juga merasa ikut sedih karena aku membayangkan jika aku seperti dia aku pastinya juga sangat ingin menangis. Jadi,kubawa dia ke bawah pohon dan mengajaknya untuk berteduh sambil bersenang-senang. Dia anak yang baik, dia tidak nakal, jadi aku menyukainya. Langit telah berwarna jingga pertanda jika waktu telah menunjukkan jam 5,namun ibu dan ayahnya tidak juga kembali,aku terus bertanya-tanya mereka kemana, namun karena tidak ingin dia sedih lagi kuajak saja dia kerumahku,ibuku juga telah menyetujuinya. Awalnya dia ragu namun akhirnya dia menyetujuinya. Saat dia tinggal dirumahku, aku berusaha membuatnya senang agar dia tidak teringat lagi akan ibu dan ayahnya,tapi aku tetap selalu kembali ke taman setelah pulang sekolah berjaga-jaga jika suatu waktu ibu dan ayahnya telah kembali,namun hasilnya nihil, mereka tidak kembali.

Minggu, 16 Agustus 2020

Tanah Air Indonesia

 

 
 
 Oleh: Maydivani Pratiwi
 
                  "Tujuh Belas Agustus Tahun 45,Itulah Hari Kemerdekaan Kita" Tepat pada hari ini,Senin 17 Agustus 2020,momen paling berharga bagi semua bangsa Indonesia, Dirgahayu Indonesia-ku yang ke-75. Rasa cinta terkadang sulit untuk diungkapkan secara langsung,apalagi untuk tempat yang selalu aku hormati, jadi izinkan aku untuk mengungkapkan perasaan ini untuk Indonesia di dalam Pentigraf yang telah kurangkai dengan sepenuh hati.

                 Aku selalu merasa bangga dan damai berada di Tanah Air Indonesia-ku ini,yang mungkin perasaan ini tak bisa kurasakan ditempat lain. Sebuah tempat dimana aku dilahirkan dan dibesarkan, dan tempat dimana aku membuat cerita-cerita yang mungkin akan menjadi sejarah dalam hidupku. Bendera Merah Putih yang selalu berkibar diatas sana dialuni dengan lagu kebangsaan Indonesia tak pernah lepas dari rasa hormatku pada Negara ini. Dari Sabang Sampai Merauke berjajar pulau-pulau, gunung-gunung yang tertata rapi, berbagai macam suku dan agama,semua ada di Negara ini. Negara yang dimasa lalunya telah berjuang untuk mempertahankan kekuasaannya hanya untuk Pemuda-Pemudi hebat yang akan lahir di Tanah Air ini. Aku selalu ingin merasa berterima kasih pada keberanian Pahlawan tanpa tanda jasa yang telah mendahului kita, yang telah berani melawan para penjajah, dan yang tanpa henti memikirkan nasib Negerinya. Semangat berapi-api yang mengalir ke dalam diri Pahlawan tak akan pernah padam sampai akhir hayat. Namun, Negeri yang dulu telah kau pertahankan hingga tetes darah terakhir,sedang tidak baik-baik saja Pahlawan.

              Indonesia kini sedang berada dalam kondisi kritis, banyak masalah yang mendatangi Indonesia. Benar kata Presiden Soekarno "Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan bangsa sendiri". Rasanya memang sangat sulit melawan bangsa dan saudara sendiri. Perjuangan bertahun-tahun melawan penjajah memang sudah usai,namun perjuangan kita belum benar-benar selesai,keadilan belum sepenuhnya kita miliki. Permasalahan-permasalahan di Indonesia menjadi semakin runcing. Padahal Indonesia kita sangat kaya akan apapun, namun masih banyak tangan-tangan kotor dari mereka yang berbicara atas nama kesejahteraan tetapi mengambil uang rakyat. Melawan bangsa sendiri bukan hanya akan menjadi PR yang sulit bagi seluruh bangsa Indonesia, tetapi juga harus benar-benar menjadikan jiwa perjuangan kita tumbuh kembali, seperti para pahlawan menghadapi para penjajah. Yang selalu kuharapkan dari dulu hingga sekarang yaitu bisa melihat Indonesia dan seluruh bangsa dan seisinya bisa damai tentram tanpa adanya rasis dan tidak terpecah belah.

Rabu, 12 Agustus 2020

Teman Kecil

 

 

 

 Oleh: Maydivani Pratiwi


         Menyangkup masalah teman, aku mempunyai teman kecil yang bahkan bisa kuanggap sebagai teman, sahabat, bahkan saudara. Aku mengenalnya saat masih di Taman Kanak-Kanak atau TK, kita sudah sangat dekat mulai dari saat itu. Orang-orang bahkan sudah tak bisa memisahkan kita berdua, kita sudah seperti di beri perekat yang tak bisa terlepas saat itu

        Menaiki tingkat sekolah dasar, kami tetap selalu bersama,duduk bersama,dan melakukan semua hal bersama. Dia anak yang pintar, dia selalu mendapat peringkat 1 dan diriku yang berada di peringkat 2. Dia juga sudah menjadi partner lomba ku saat masih SD, kita selalu diikutkan lomba yang sama, mulai dari Cerdas Cermat, lomba senam, dan masih banyak lagi. Sampai sekarang aku masih tak bisa melupakan jika kita belajar bersama, makan bersama, bermain bersama, semuanya kulakukan bersama dia. Kita seperti diikat oleh takdir sebagai seorang teman. Namun, saat dia memutuskan untuk memasuki pesantren dan aku memasuki sekolah menengah pertama negeri, kami terpisah.

        Saat itu tiba, kita sudah tak lagi melakukan hal bersama-sama karena dia yang telah memasuki asrama. Semuanya terasa berbeda, sikapku yang pemalu, tidak gampang bergaul dengan orang baru, dan susah untuk beradaptasi dengan lingkungan baru membuat diriku sendiri merasa kesulitan bersosialisasi. Hari pertama sekolah aku seperti orang asing yang tak kenal siapapun, padahal teman sekelasku saat SD juga sekelas denganku lagi saat SMP, namun aku tetap merasa kesulitan,aku bahkan duduk paling belakang. Lem perekat yang tidak bisa terlepas saat itu kini mulai memudar. Namun, aku harus mengerti keadaan, kita berdua tetap harus menggapai cita-cita masing-masing agar dapat bertemu kembali saat besar nanti. Yang selalu kuharapkan dari dulu, semoga kita tetap masih bertemu di masa depan dan masih bisa mengingat masa lalu bersama.

Kamis, 06 Agustus 2020

Beda Rasa

 Oleh : Maydivani Pratiwi

      Kita sama, kita sama sama memiliki organ tubuh, kita sama sama berada di bumi,kita sama sama menghirup oksigen,kita juga seiman layaknya tak ada halangan untuk kita berdua, namun ada sesuatu yang membuat kita berbeda, perasaan, yaa perasaan kita berbeda. Kita sama sama saling menyukai tapi, aku menyukaimu dan kau menyukainya. Sebuah rasa yang entah kapan akan berubah, walau kutau yang kulakukan hanya membuang waktu. Aku yang saat ini tak pernah bisa terlihat olehmu hanya dapat memandangmu dari jauh. Aku selalu iri dengan orang orang disekitarmu, bisa berada dekat denganmu dan bisa bercanda tawa denganmu,entah kapan aku bisa merasakan itu.

      Aku selalu berkhayal jika aku yang saat ini bisa dekat denganmu. Aku tak bisa berharap lebih bahwa perasaanku akan dibalas olehmu,karena aku juga tak bisa menjamin aku bisa menjaganya, aku juga tak berharap memiliki hubungan spesial denganmu karena kutau itu hal yang tidak mungkin terjadi. Aku hanya bisa berharap bisa terus melihatmu walau dari jauh. Aku hanya ingin menjadi teman dekatmu,bisa mengenalmu lebih dalam tanpa khawatir akan perubahan, kehilangan, atau apalah itu. Ketika bangun dipagi hari kutatap indahnya matahari yang muncul, kau selalu muncul dalam pikiranku, ketika melihat indahnya langit berwarna jingga yang biasa orang-orang sebut senja, kau juga muncul dalam pikiranku, bahkan juga saat aku melihat bulan yang menerangi gelapnya langit malam yang indah,kau juga muncul bersamaan dengan diriku yang sedang merangkai kata-kata indah untuk memori dikepalaku. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan perasaan ini jika kau selalu menghantui pikiranku?

      Aku tak mengerti kenapa aku bisa bertahan dengan perasaan yang seperti ini sampai sejauh ini, aku hanya menuruti kata hatiku. Aku sangat tak paham dengan diriku sendiri, semuanya hanya mengalir dengan deras seperti air terjun. Semuanya kulakukan entah atas dasar apa,bukan karena terpaksa bukan karena sedang kurang kerjaan, entah karena apa,semuanya seperti puzzle yang harus kupecahkan sendiri tanpa dibantu orang lain. Aku tidak menyangka bisa menahannya sampai selama ini, tanpa adanya kepastian apa lagi sebuah tanda kalau aku memiliki harapan dan diberi kesempatan. Aku menunggunya seperti orang bodoh, sangat bodoh,padahal aku mengerti situasiku sekarang sangat tidak memungkinkan,tapi aku masih tetap melakukannya, bodoh bukan?.Namun aku selalu berdoa pada tuhan untuk mempertemukanku dengan seorang yang memang hanya untukku, jadi jika memang bukan dia, aku bisa apa.

Rabu, 29 Juli 2020

Mimpi

 Oleh:Maydivani Pratiwi

     Malam itu aku bermimpi tentang dirinya, tentang dirinya yang kembali kepadaku. Aku tak mengerti kenapa ia singgah kedalam mimpiku, aku merasa tak pernah memikirkannya sampai terbawa mimpi, jadi kuhiraukan mimpi itu dan berpikir mungkin hanya kebetulan. Mimpi pertama itu tak kuceritakan pada siapapun bahkan sahabatku sendiri akupun juga tak mencari tahu penyebabnya kenapa bisa mimpi itu terjadi karena yaa aku berpikir itu hanya kebetulan saja,bukan hanya karena memimpikannya dan menjadikan mimpi itu sebagai sebuah tanda atau fakta, bukan. Aku tak pernah berasumsi tentang itu karena jika hanya 1 kali itu mungkin kebetulan,tapi lain hal jika 2 kali atau lebih. Hari-hariku pun kulalui dengan lancar tanpa memikirkan mimpi itu.

     Hari-hari telah berlalu, saat aku sudah melupakan kejadian waktu itu, entah bagaimana caranya dia singgah kedalam mimpiku lagi, dengan tema yang sama, dia kembali padaku. Aku lagi-lagi berpikir bagaimana bisa, aku merasa tak pernah memikirkannya semuanya terjadi begitu saja. Kubangun dari tidur nyenyak ku,kugapai smartphone ku dan menulis sebuah kata di google. Aku merasa ada yang aneh tentang ini, kuceritakan pada sahabatku, sahabatku juga mempunyai pemikiran yang sama denganku. Namun, lagi-lagi aku menghiraukannya, mungkin hanya pikiran ku yang sedang lelah? tidak seorang pun tahu, bahkan diriku sendiri. Tapi apakah kalian akan percaya jika aku sudah memimpikannya sebanyak 4 kali? tidak kan? akupun begitu.

     Seperti yang kukatakan,aku sudah memimpikannya 4 kali dengan tema yang sama lagi seperti yang sebelum sebelumnya. Aku bahkan sudah mencari di google kenapa ini bisa terjadi, namun aku tak percaya dengan semua yang tertulis di google,karena kupikir itu mungkin hanya asumsi orang orang saja, tapi juga mungkin sebagian dari itu ada benarnya, aku tak mengerti. Yang kutau saat ini dia sudah bahagia dan akupun begitu, sekarangpun aku sudah merasa lebih baik dari sebelumnya. Semua yang terjadi di masa lalu hanya kujadikan sebagai pelajaran untuk masa depanku. Aku juga berterima kasih padanya, dia sudah banyak membantuku, mengajariku banyak hal, dan masih banyak lagi, karena waktu yang kulalui bersamanya cukup panjang. Aku tak bisa menyalahkannya atas apa yang telah terjadi, karena tidak sepenuhnya dia salah, aku juga salah, ego dan perbedaan pendapat itu mengalahkan segalanya. Yang kuharap sekarang diriku sendiri dan dia bisa mengintrogasi diri atas segala yang telah terjadi.

Kamis, 23 Juli 2020

BERPISAH TANPA PERPISAHAN

Nama:Maydivani Pratiwi
Kelas:X MIPA 1

         Hari kelulusan sudah diumumkan, kami semua dinyatakan lulus dan telah menyelesaikan pendidikan kami di tingkat SMP.Hari yang ditunggu-tunggu namun membuatku sangat tidak rela meninggalkan teman-teman yang selama ini mengisi hari-hariku selama 3 tahun.Jujur,aku sudah sangat nyaman dengan teman sekelasku di SMP,mereka yang membuat kehidupan hitam putihku menjadi berwarna, mereka yang membuat diriku menjadi lebih percaya diri,mereka yang merubah diriku yang dulu.Namun,kehidupan baru dan pengalaman baru itu sangat dibutuhkan, jikalau suatu saat nanti aku sudah mencapai keinginanku aku tidak akan pernah melupakan orang yang telah merubahku menjadi seperti sekarang. 

         Bila diingat-ingat kembali saat kami masih selalu bersama dikelas, belajar bersama, bermain bersama, makan bersama,bahkan berbagi suka dan duka bersama, membuatku tak rela bila suatu saat nanti kami semua sudah saling melupakan karena jarak dan waktu membuat kami terpisah. Aku selalu berpikir jika bagaimana kalau kami semua sudah tak bisa saling bertegur sapa, membuat lelucon bersama hingga tertawa bersama, aku tak bisa membayangkannya.Saat kuingat-ingat lagi saat kami pernah berjuang bersama memenangkan suatu hal namun kami gagal, kami semua sangat merasa kecewa kepada diri kami sendiri, kenapa kami selemah itu. Namun,untuk membuang rasa kecewa itu kami mendukung yang lainnya agar membuat rasa kegagalan kami menjadi rasa kemenangan.Kami juga pernah rela berpanas-panasan untuk mendukung teman sekelas kami agar memenangkan lomba itu, dan yaa kami diberi kesempatan untuk memenangkannya, itu semua menjadi rasa bangga yang melekat dihati.Semua kisah yang telah kami lalui bersama masih terpampang dengan jelas dipikiranku, semua kisah kisah berkesan itu yang akan menemani ku saat aku teringat dengan mereka.

         Kami berpisah belum waktunya, kami libur belum waktunya membuatku geram dengan semua ini, waktu terakhir yang harus kami isi dengan keceriaan agar ada bahan yang bisa kami ingat seumur hidup hilang begitu saja,waktu yang seharusnya kami pakai untuk menghabiskan waktu bersama sebelum waktunya dirampas begitu saja. Padahal aku berharap bisa bersama mereka untuk terakhir kalinya di kelas kami belajar bersama, karena tidak ada yang tahu apakah kami akan tetap saling kenal, bertemu seperti dulu lagi,tidak ada yang tahu. Aku bahkan sudah merencakan jika nanti kami sudah selesai melaksanakan ujian nasional kami ingin berfoto bersama,  namun semuanya hanya sekedar harapanku saja. Saat hari kelulusan tiba aku memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ku di sekolah berasrama di SMAN 6 BARRU, karena aku ingin mencari pengalaman baru dan cerita baru dikehidupanku yang masih suram, walau sebenarnya agak berat karena banyak yang harus kurelakan, baik itu teman, bahkan waktuku,tapi tak mengapa karena aku sangat ingin melihat orang paling berjasa dikehidupan ku bahagia saat aku sukses nanti,aku akan berusaha sekeras yang kubisa.Aku selalu berdoa agar mereka semua yang telah menjadi teman baikku mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi dari sebelumnya, dan aku juga selalu berdoa agar mereka tak melupakanku.Sebenarnya masih banyak sekali kisah masa SMP ku yang mau kusampaikan disini, namun biarlah itu menjadi cerita yang akan selalu ada dihatiku.Walaupun ini adalah perpisahan yang tidak sesuai harapan tapi aku selalu berharap mereka semua mendapat kehidupan, teman,pengalaman baru yang lebih indah dari sebelumnya.

Jamu dengan Segudang Khasiat

  By: Nasyri’ah Nur Aisyah    Apasih yang pertama kali terlintas dipikiran kalian setelah mendengar kata 'jamu'? Dalam Peraturan Men...