Tampilkan postingan dengan label X MIPA 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label X MIPA 2. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2020

My favorite teacher


Oleh:Nur afni ulfiana
Kelas:XMIPA 2

   Namanya pak faisal.Beliau Adalah seorang guru IPA di Sekolahku Saat Aku Duduk Di Bangku SMP. Banyak siswa yang mengenalnya sebagai guru yang kejam.Namun tidak demikian dengan ku.Bagiku, Beliau seorang guru yang baik.
   Aku berani berkata seperti itu karena aku merupakan murid didikan beliau.Setiap hari setelah sekolah aku selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumah beliau.Ternyata bukan untuk bermain melainkan untuk belajar Setiap hari aku tiba di rumahnya beliau menyambutku dengan ramah dan penuh hangat.
   Bahkan ketika belajarpun beliau tidak pernahh memarahiku setiap aku berbuat kesalahan,beliau mencoba mencari hal yang menghambarku dalam perkara itu dan menuntunku sampai aku sendiri menyadari kesalahan tersebut dan penyebabnya. Kini,berkat bimbingan beliau aku tak pernah lagi mengalami kesulitan dalam pelajaran IPA terutama pada materi tentanf Fisika.

Kamis, 17 September 2020

Salahku!

 
Oleh: Nur Afni Ulfiana.
Kelas :Xmipa 2

   Saat duduk termenung melihat suasana taman. Aku melihat pria tampan berbaju hitam. Aku pergi menemuinya,Namanya Aldi. Pas aku tanya dia jomblo atau tdk, dia menjawab bahwa dia ternyata punya pacar, tapi aku bersikeras mendekatinya, akhirnya dia ajak aku makan siang bareng,Suasana hariku sangat senangt 
  Saat sampai di rumah makan Dia langsung memesan makanan.Aku tatap wajahnya sangat tampan bukan tanpa ku sadari makanan sdh habis kami berbincang bincang mengenai hidup kami masing masing
   Tak di sangka pacarnya datang dan melihat kami berdua dan menuduh bahwa Aldi selingkuh bersamaku emosi mulai menggelegar ia merasa di duakan ia merasa sangat cemburu dan akhirnya ia meminta putus dengan Aldi tapi Aldi mengabaikan dan akhirnya mereka putus,akan tetapi aku malah lebih jauh kepadanya,ini semua salah ku.
   

Minggu, 23 Agustus 2020

Teruntuk senja

Oleh: Nur afni ulfiana

" cinta kepada senja. Bukan, kepadamu. Eh, bukan, kepada kalian. Entah lah. Mungkin, aku jatuh cinta kepadamu waktu senja.Tentu kamu masih ingat saat semburat surya masih cukup rimbun, saat kita berjalan-jalan sore itu sambil bertelanjang kaki. Kristal-kristal di kaki, deburan ombak nan syahdu di telinga, hembusan garam nan basah di muka, serta degup di dada. Ah, siapa yang bisa lupa?Senja itu, di pantai itu, saat kita kemudian sepakat dalam diam. Tidak ada embel-embel, tidak ada jabat tangan, apalagi cap jempol di materai. Tak perlu. Cukup camar dan kapal nelayan di ujung horizon sana yang tahu kalau di pantai itu, Senin tanggal tujuh, aku menjadi manusia paling bahagia sedunia. Tentu kemudian, jelas kan kenapa aku bilang aku jatuh cinta kepada senja?Seharusnya pun, aku jatuh cinta kepada pantai juga.Eh bukan, aku jatuh cinta kepadamu! Entah waktu itu apa yang kamu rasakan. Bahagia? Apakah kamu juga jatuh cinta kepadaku, paling tidak barang sesaat? Tak tahu. Yang jelas sepanjang perjalanan kembali ke kota, kamu mendekapku sangat erat. Seperti yang kemudian sering kamu lakukan ketika kamu sedih, atau ketika kamu sedang marah kepadaku, lebih sering ketika kamu cemburu. Ah sayang, kamu selalu tidak percaya diri. Memangnya siapa sih yang punya mata sejernih hitam irismu? Siapa sih, yang punya rambut sehalus mahkotamu? Siapa sih, yang punya senyum terindah yang hanya mungkin tercipta dari bibir tipis milikmu itu? Ah sayang, betapa bodohnya kamu kalau harus cemburu!

Kemudian kita berkembang, berproses, sibuk dengan tujuan material dan normatif lain. Sibuk menyiksa diri dalam rutinitas tetek bengek tidak jelas yang masyarakat nilai sebagai sebuah keharusan. Sibuk siang malam, pagi sore, subuh, senja, kapanpun. Akhirnya, suatu hari, dalam dekapan itu, kita harus pergi satu sama lain. Duh, bagaimana aku bisa menikmati senja tanpa kamu? Aku harus hidup, tapi apa guna nya hidup tanpa cintamu? Di peron itu, kamu melambai pelan sambil melempar senyum. Ah keparat, mana bisa aku menahan rindu! Tapi sayang, rupanya rindu itu kemudian tersimpan. Bukan hilang, tapi tetap ada berdiri khidmat di ujung sana. Diam, menunggu saat yang tepat untuk datang dan menghujamiku dengan gambaran-gambaran tentangmu. Rindu itu bagaikan album foto, indah rapi tersimpan menunggu untuk kukagumi dan kuingat. Namun album foto ini brengsek, dia bisa datang sendiri menghadapku kalau aku sedang gabut. Dia datang, membuka halaman per halaman, menampakkan rambut indahmu, mata jernihmu, hidung panjangmu, gigimu, bibirmu, lehermu, uh semuanya! Kurang ajar kan?! Kemudian aku cari cara untukk mengurung rindu bedebah ini. Aku kesana kemari, menyibukkan diri makin-makin. Aku lelah, aku letih, aku mengantuk, aku menderita, tapi aku tidak rindu kamu. Itu bagus. Kalau cuma penat dan sakit tidak akan membunuhku. Kalau rindu kamu, siapa bisa menjamin? Hal itu perlahan-lahan menjadi tabiat baruku. Pelan-pelan, aku lupa bagaimana caranya merindu. Aku tak ingat lagi bagaimana harum rambutmu, kenyal pipimu, halus bibirmu, aku lupa. Tapi apa salahku? Orang bilang, kalau berjodoh pasti bertemu. Dosa apa aku, sehingga Tuhan harus menahan jodohku selama dasa musim? Apa benar itu jodohku? Kalau bukan, apa guna aku merindu seperti ini, ya tho?Hari itu, tanpa kuduga, kamu pulang. Kamu hadir dengan rambut terikat dan bibir merah menyala. Setelanmu khas wanita sukses sekali! Dandananmu sangat menor, sayang. Tapi cantik, karena itu kamu.

Kamu kemudian menyerahkan amplop. Undangan, katamu. Undangan pernikahan kamu dengan pria di seberang laut. Oh ya? Aku membaca namamu dan nama keren seorang pria. Namanya sangat asing, bukan orang sini rupanya. Aku melihat namaku sebagai yang diundang, diembel-embeli titel “saudara”. Apakah kita bersaudara, sayang? Apakah saudara saling merengkuh saat malam itu kita saling menggigil?Kenapa, tanyaku padamu. Kenapa tiba-tiba? Kemudian kamu menangis. Aku bingung setengah mati. Apa salahku?Kamu kemudian bercerita. Tentang pria seberang laut itu, seorang rekan kerja yang menguntungkan bagi perusahaan. Kemudian kalian menjalin kerja sama, kontrak, kemudian makan malam, pesta, dan selanjutnya entah apa lagi aku tidak mau dengar. Kamu menangis. Kamu bilang, ini semua salahmu, membiarkan si badut itu masuk dan meruntuhkanmu luar dalam. Kamu meminta maaf, aku tersenyum kecut. Ketika berbagai cara kulakukan agar tak merindu, kukira aku lah yang berdosa. Ah sayang, ternyata kamu ekstrem, ya? Kamu memang perempuan yang berani, dan kadang hilang arah. Aku paham itu, tentu saja. Lalu kamu harus menikah, tanyaku? Lari saja. Hidup bersamaku. Aku tidak peduli badut itu telah menidurimu berapa ratus kali, persetan bagiku. Aku cuma mau jiwamu, perasaanmu, cintamu. Tapi kamu menolak. Katamu, aku tidak akan siap. Rupanya, katamu, cintamu telah terbagi ke dalam raga baru. Jiwa kecil, yang sekarang bersemayam di relung kehidupanmu. Katamu, anak itu bukan tanggung jawabku, dan anak itu akan menjadi simbol bahwa cintamu tidak lagi seutuhnya kepadaku. Kemudian, setelah dekapan tererat yang pernah kamu lakukan padaku, kamu pergi. Kamu melangkah dari halaman rumahku, menuju pagar tanpa pernah sedikitpun membalik badan untuk melambaikan tangan atau sekedar memberi senyum seperti dulu. Maka dari itu aku datang kemari tiap senja, ke pantai ini. Aku jatuh cinta kepada senja, kepada semburat emas yang mengintip dari awan, yang kemudian berubah merah dan gelap. Aku jatuh cinta kepada senja, yang mengarsip rapi memori tentang kita. Aku jatuh cinta kepada senja, yang selalu hadir di sini ketika aku datang. Aku kagum, rindu, bahagia kepadamu, Senja. 

seperti embun

Ole:Nur afni ulfiana

Kelas:X MIPA2

Siang tadi telah kulewati lorong yang melabirin," kabarmu dari sebuah sore di sebelah selatan, dekat dengan waktu yang sudah lama kutinggalkan. Lorong itu berujung pada dua sisi, lorong yang kita lewati dulu ketika pohon kelapa di sisi kolam masih setinggi tangga bambu. Dua sisi lorong yang sama-sama pernah kita pahami sebagai sisi dengan nama yang sama tetapi dalam pengertian yang berbeda. Bukankah kita lalu tersesat di tempat yang sama? Aku menunggu di ujung satu, dan kamu menunggu di ujung lorong lainnya. Dan sedikit waktu yang menjadi bagian kita lalu hilang lebih cepat. Menguap seperti embun di ujung rumput-rumput gajah sesaat setelah matahari meninggi.

Lorong itu lalu hanya menjadi sebuah penegasan bahwa arah, pertama-tama, adalah bukan kapan dan bagaimana kepergian akan dilakujalani tetapi ke mana arah akan dituju.

"Hahaha, tidak tersesat lagi kah?" tanyaku sambil terbahak. Mensyukuri bahwa kita pernah tersesat dalam waktu yang sama, di tempat yang sama dan dengan cara yang sama. "Tidak, aku tidak tersesat lagi," jawabmu dengan nada yang tersipu. Setelah ketersesatan itu, kamu lalu lebih sering tetiba menyelinap dalam ruang-ruang hening. Juga ketika asap-asap dupa melewati altar bertaplak putih dengan lilin yang menyala di sebelah kiri dan kanan. Mungkin karena langkah-langkah sejajar bergegas pernah kita satukan, hanya untuk mengejar supaya waktu tidak menguap secepat embun.

Kamis, 06 Agustus 2020

Dia Kembali

Kelas : X MIPA 2

 Hai.. Msih Dengan Cerita Yang sama,Dia? Iya dia yang ku ceritakan pada cerita sebelumnya, dia tlah kembali kembali menjadi sosok pria yang baik,sopan,dan senantiasa ada untuk ku dia yang sekarang telah mengisi hari hari ku,menjadi teman cerita ku,menjadi orang yang slalu ada ketika aku punya masalah. Dia bukan lagi Dia yang cuek,bahkan sama skali dia tidak peduli dengan apa yang terjadi.
  Dia kembali seperti dia yang pertama kali ku kenal,Mungkin ini mustahil terjadi tapi ntah kenapa di setiap aku berusaha untuk menjauh sangatlah susah dan akhir Allah mendekatkan kita kembali dengan skenario nya bagi orang orang mungkin ini hanyalah khayalan mungkin ini hanyala "halu" tapi tidak itu smua tidak benar ini nyata.
 Tepat di hari ulang tahun ku dia kembali sekian lama ku sebut namanya di dalam do'a dan akhirnya Allah menjawab semua yang ku ucapkan benar kata orang orang,kita harus selalu mendoakan apa yang kita inginkan dan ya.. Aku percaya semua itu Allah telah menentukan jalan yang terbaik untuk kita dan semoga dia tidak mengulangi kesalahan yang sama :)


Minggu, 02 Agustus 2020

KESALAPAHAMAN

Nama : Muhammad Alfauzi Arif 
Kelas : X MIPA 2

   Zea terbangun dari tidur lelapnya,menghela napasnya dengan pelan. Pandangannya memutar ke segalah sudut yang tidak begitu asing baginya. Ya, itu adalah rumah Zea tepatnya ia berada di kamar yang di cat dengan Biru langit. Zea mencari sosok yang sedari tadi ia tak pernah menampakkan batang hidungnya. Ya Ares yang mengantarnya pulang, Ares sudah tak ada disana. Bahkan jaket yang di berikan kepada Zea semalam sudah lelaki itu ambil kembali. Ares benar-benar sudah tak ingin lagi berurusan dengannya. "Oke Zea, tenang dan tarik nafas. "Ucap Zea pada dirinya. 

   Zea mengulang ritual itu beberapa kali. Membuat tubuh dan pikirannya rileks.Sebab masalah yang datang ke hidupannya sangat amat bertubi-tubi

    Zea sempat memikirkan bagaimana Teman-teman di sekolahnya nanti tentang 
 Artikel yang tidak benar itu. Selama Berada di kamarnya, Zea terus menerus Memikirkan nasibnya setelah ini. 

                                  

Kamis, 30 Juli 2020

Tentang Dia

Oleh:Nur Afni Ulfiana
Kelas: X MIPA 2

  Sunyi sekali malam ini angin bertiup dengan lantunan sunyi dan damai,lampu lampu kapal para nelayan yang enak di lihat dan ombak ombak pun seakan akan tau perasaan ku saat ini Ya.. Pantai tempatnya,Dengan cahaya bulan yang menyertai kesedihan malam ini. Bagiku duduk di pinggiran pantai dan menikmati suasana angin adalah hal yang sangat tenang ketika pikiran sedang kacau, Seperti sekarang itu semua terjadi padaku, Entah mengapa Dia yang telah pergi terus berada di ingatan ku dia yang di sana bermain,tertawa sesuka nya entah apa yang ad di pikirannya. Yang pasti aku sangat rindu padanya. Mungkinkah ia ingat padaku? Hahahhahahaha Aku tertawa sendiri dengan keadaan ku saat ini.
  Aku merasa dia tidak sepemikiran  dengan ku,aku yang selalu memikirkan nya,berharap dia kembali dan berharap masa masa itu terulang kembali,Mustahil ituu semua terjadi. Dia yang selalu aku pikirkan telah bahagia entah dengan siapa dia sekarang, tapi entah mengapa di kala aku sendiri dia selalu hadir dan menghantui pikiran ku namanya yang sering terlintas tanpa bisa aku hilangkan.
  Ingin ku raih alat komunikasi yang ada di sampingku ingin ku hubungi dia lalu ku sampaikan rasa gelisah yang ku alami,ingin ku kabari dia bahw aku rindu dengan dia, ingin ku tahu semua tentang dia. Dengan siapa dia sekarang? Sedang di mana dia? Apakah dia baik baik saja? Apakah dia merindukan ku seperti aku merindukannya? Namun itu semua hanyalah keinginan belaka, Berat rasanya mengangkat hp ini, berat rasanya mengetik namanya. Pengecut? Takut? Ah,Entahlah Benar kata Dilan  "Rindu itu berat". Ingin rasanya ku tutup lembaran lama,lalu ku buka lembaran baru tapi entah mengapa semua itu begitu sulit. Pesan ku kepada angin "Aku titip Rindu ini Katakan pada dia rindu ini datang dari hati Dan selalu dari hati


Jumat, 24 Juli 2020

Lelaki Penikmat Senja

Karya : Muh. Kamaruddin Adam
Kelas  : X MIPA 2
NISN  : 0057947378

      Lelaki itu kembali ke sana untuk mencecap senja. Saat turis berkerumun di belakang punggungnya berdecak menikmati kecak, matanya justru memandang syahdu mentari yang mulai berlalu. Kepada senja, dia titipkan rindu yang tak terucap untuk melintas samudera.

      “Antar aku melihat senja di tepi tebing”, ini permintaan gadis yang pernah bersama lelaki itu. Sang lelaki hanya bisa memandangi punggung si gadis tanpa bisa berucap tentang rasa. Jingga senja melingkupi segalanya.

      “Perjuangannya sudah selesai, dia sudah pulang”, kata dokter kepada si lelaki. Gadis itu hanya meninggalkan secarik kertas di tepi tempat tidurnya. “Tebarkan abuku di laut dari tepi tebing saat senja. Kita akan bertemu di sana. Gadismu. Ayu Kartika.”

#pentigraf

PESEPEDA

NAMA : IMAM FAUZAN
NISN : 0059142486
KELAS : X MIPA 2 
Saya sangat suka dengan namanya bersepeda awal suka saya terhadap sepeda ketika saya di ajak berkeling kota barru oleh ayah saya,disitulah awal mula saya mulai mengenal lebih dalam tentang dunia persepedaan.hingga saya diajak mengikuti sebuah event speda croos country atau yang dikenal "sepeda gunung" saya mendapatkan keseruan sendiri dengan bersepeda seketika saya merasa jatuh cinta dengan sepeda MTB.

Sudah banyak event sepeda gunung telah saya ikuti didalam kota maupun luar kota bahkan sampai luar provinsi,dengan bersepeda kita mendapatkan teman baru yang lebih seru karena satu hobi yaitu bersepeda.saya memasuki komunitas sepeda yang ada di kota saya yaitu BHAYANGKARA CYCLING TEAM POLRES BARRU komunitas tersebut berasal dari anggota polisi polres barru,setiap ada event sepeda baru kita akan pergi walaupun jaraknya yang begitu jauh.

Didalam event sepeda terdapat sebuah kompetisi balapan yang dinamakan dengan XC CROOS COUNTRY saya melihat betapa serunya orang salainh adu kecepatan satu smaa lain di medan yang extreme,disitulah saya merasa tertantang ingin mencobanya namun kedua orang tua saya tidak mengizinkan saya untuk mengikuti kompeteai tersebut karena berbagai resiko besar yang dialami oleh para peserta,namun saya tidak berputus asa saya berlatih keras disetiap waktu lenggang saya,bahwa saya ini beraungguh-ingin mengikuti kompetesi tersebut melihat kegigihan saya ayah saya mulai mengizinkan saya untuk mengikuti kompetisi tersebut namun dengan situasi saat ini yaitu Pandemi covid-19 yang tak kunjung usai,semua kompetisi yang ada di batalkan,namun saya terus mempersiapkan diri untuk kompetisi tersebut.
              SEKIAN DAN TERIMA KASIH 

Jamu dengan Segudang Khasiat

  By: Nasyri’ah Nur Aisyah    Apasih yang pertama kali terlintas dipikiran kalian setelah mendengar kata 'jamu'? Dalam Peraturan Men...