Tampilkan postingan dengan label Kelas X MIPA 2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kelas X MIPA 2. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2020

Salah memilih

 

           
 
 
 Judul: Salah Memilih
                                           
 Oleh: Risnawati

Hi. Apa kabar?
Untukmu yang lalu pernah menjadi bagian dari keseharian ku. 
3 tahun yang lalu tepatnya tahun 2017
aku lihat kau sangat senang dan bahagia saat di samping ku, apa kau lupa?
Semua orang pasti memiliki kisah hidup yang buruk, saat aku masih bersekolah di sekolah dasar kelas 6. Pada saat itu aku mempunyai seorang teman, teman yang terbilang sangat dekat.
Saat itu dia berkata  
"kau akan bersekolah di mana?" 
aku menjawab 
"aku mungkin akan bersekolah di Pesantren"
Dia berkata lagi
"mama aku menyuruh ku untuk ikut denganmu, apa boleh? " 
Aku menjawab
"itu sangat bagus aku sangat senang!" 
Pada saat itu aku sangat sangat senang karena mempunyai teman untuk bersekolah di Pesantren, jujur saja saat itu teman teman yang lain tidak ada yang ingin bersekolah di pesantren untung saja dia ingin pergi bersamaku.
                Kemudian waktu pendaftaran murid baru dimulai,pada saat itu aku, dia dan di temani  mama nya pergi ke sekolah untuk menyerahkan berkas berkas pendaftaran murid baru. Beberapa hari kemudian aku benar benar masuk sekolah pesantren dan masuk di asrama putri (aspuri) tentunya bersama dia. 
Dia di temani orang tuanya, dan aku di temani keluarga ku. Saat aku masuk di halaman asramanya aku merasa beda mungkin karena aku baru ke asrama itu. Mama aku dan mama dia cukup akrab, kemudian keduanya memberitahu pembina yang ada pada waktu itu untuk aku dan dia satu kamar. Jadilah aku satu kamar dengan dia. 
                Namun pada saat kelas 8 semuanya terasa berbeda, dia berubah dan menjadi orang asing. Aku dan dia bisa di bilang bukan dari Sekolah dasar yang sama. 
Aneh kan? Ya aku juga berfikir demikian. Dan mungkin aku sudah salah memilih.Memilih dia menjadi teman terbaik ku, namun bukan berarti aku membenci dia dan sebaliknya bukan berarti dia membenci ku. Aku dan dia masih saling sapa dan sering kali berbicara,tapi mungkin tidak akan bisa menjadi seperti 3 tahun yang lalu. Mungkin saja aku ke depannya aku akan salah memilih lagi. 

Jumat, 24 Juli 2020

Lelaki Penikmat Senja

Karya : Muh. Kamaruddin Adam
Kelas  : X MIPA 2
NISN  : 0057947378

      Lelaki itu kembali ke sana untuk mencecap senja. Saat turis berkerumun di belakang punggungnya berdecak menikmati kecak, matanya justru memandang syahdu mentari yang mulai berlalu. Kepada senja, dia titipkan rindu yang tak terucap untuk melintas samudera.

      “Antar aku melihat senja di tepi tebing”, ini permintaan gadis yang pernah bersama lelaki itu. Sang lelaki hanya bisa memandangi punggung si gadis tanpa bisa berucap tentang rasa. Jingga senja melingkupi segalanya.

      “Perjuangannya sudah selesai, dia sudah pulang”, kata dokter kepada si lelaki. Gadis itu hanya meninggalkan secarik kertas di tepi tempat tidurnya. “Tebarkan abuku di laut dari tepi tebing saat senja. Kita akan bertemu di sana. Gadismu. Ayu Kartika.”

#pentigraf

Ibu Juga Manusia

“Ibu juga Manusia”

Karya: Muhammad Rayhan Saputra. A. 

 

“Gak!” ucap anak laki-laki penegasan, “Aku gak mau mondok, Bu”

“Ibu tidak minta pendapatmu, Ahmad.” 

Ahmad nama anak laki-laki itu melirik Ibunya tajam melalui ekor mata, “Aku yang bertanggung jawab atas hidupku sendiri.” menghelas nafas kasar, “Besok ikut Ibu ke Pesantren.” titah wanita separuh baya itu,yang tentunya tak disetujui Ahmad. 

“Ibu!” ucap Ahmada setengah membentak. Langkah wanita paruh baya yang tadinya hendak meninggalkan kamar Ahmad terhenti, memandang Ahmad lamat. “Ibu, berhenti bertingkah menjengkalkan! Urus saja pekerjaanmu.”

“Baiklah.” lirih wanita itu, “Kalau kamu sudah tidak ingin diatur Ibu, tinggallah dengan Ayahmu.”

Mia nama wanita paruh baya yang termenung diterangi cahaya kekuningan yang kian meredup, pikir wanita itu melayang entah kebelahan bumi mana sebab terlalu emosional memikirkan kemungkinan-kemungkinan yang terjadi setelah perdebatannya dengan anak semata wayang, Ahmad. Mia melirik gawai di nakas, nama mantan suaminya tertera.

“Mia” sapa lelaki itu ketika panggilan mereka terhubung, “Ahmad sudah cerita.”

“Kabari aku sebelum kemari mengambil Ahmad.” Balasnya lelah.

“Mia, harusnya kamu tidak memaksakan kehendak dengan Ahmad.”

“Ini demi kebaikannya, Adit.”

Adit menghelas nafas panjang, “Kamu Ibunya, harusnya lebih mengerti keinginan Ahmad.”

“Karena aku Ibunya, makanya ku berikan yang terbaik untuk hidupnya.” Balas Mia sedikit tersentil dengan perkataan mantan suaminya.

“Yang terbaik untukmu belum tentu terbaik untuknya. Kita semua paham konteks itu Mia.”

“Anak lima belas tahun tidak akan mengerti!” Memijit pelipis pelas, “Just two of us, aku akan mengupayakan apapun untuknya meskipun Ahmad akan membenci Ibunya.”

“Mia! Jika kamu tetap bersikap menjengkelkan dan keras kepala, kamu akan kehilangan Ahmad.”

“Adit, jangan lampau batasmu! Kalau kamu cukup peduli dengan kami seharusnya tetap menjadi Ayah dan Suami yang baik, jadi berhenti bertingkah bijak.”

Butuh sepersekian sekon bagi keduanya segera sadar bahwa pembicaraan mereka akan menguak titik awal sebab-akibat pertengkaran hingga mereka berpisah, dan itu akan menjadi pembicaraan yang alot dan emosional.

“Aku hanya tidak ingin kamu menyesal Mia. Menjadi orang tua bukan berarti akan menjadi yang selalu benar, kamu dan aku hanyalah manusia yang bersikap manusiawi.”

“Kamu tahukan, sejak perpisahan kita Ahmad berubah. Dia bertingkah konyol dan senang melanggar aturan, aku hanya ingin dia bersekolah ditempat yang mampu mengembalikan Ahmad menjadi anak yang patuh dan berprestasi seperti dulu.” ucap Mia nyalang, “Aku tidak akan sanggup melihatnya terjerumus kepergaulan sesat, Radit.”

“Maaf Mia, aku hanya berusaha bertindak sebagai Ayah bagi Ahmad.”

Mia diam membisu, memandang sebuah pigura dengan potret Ahmad kecil yang tersenyum dalam pelukannya. Waktu berlalu begitu cepat Ahmad kecilnya  yang penuh tawa telah berubah menjadi anak remaja minim tawa bahkan bicara. Mia bahkan tak ingat kapan terakhir kali dirinya dan Ahmad saling sapa tanpa menguak amarah. 

Mengapa hanya dia yang berada pada tempat yang sama? 

Mengapa hanya dia yang selalu mengambil peran Ibu mejengkelkan?

Bagaimana menjadi Ibu yang baik?

Atau layakkah dia dipanggil Ibu?

“Aku-” ada luap ditenggerokannya yang membuatnya sulit berbicara, “ingin menjadi Ibu yang baik.” Meredamkan haru, Mia berbicara sekali lagi, “Di kehidupan ini, aku hanya ingin Ahmad tidak menyesali memiliki aku sebagai Ibunya.”

Adit berdecak pelan, “Mia, karena kamu Ibunya makanya Ahmad tidak ingin tinggal disekolah berasrama. Dia ingin bersamamu, selalu.”

Mendengar pernyataan Adit, luap yang sejak tadi tertahan kini tumpah ruah penuh isak.

“Karena Ahmad tau, hanya kalian berdua.”

Dalam keheningan malam yang kian gelap dan bintang yang kian kerlip, ada dua tangis yang beradu memecah sunyi; tangisan seorang Ibu yang kalah dengan egonya dan tangis anak laki-laki yang terluka dengan egonya.

 

Kamis, 23 Juli 2020

Diskusi Rasa Bersama Senja

   Seiring berjalannya waktu aku terbiasa dengan kesendirian ku. Hahaha sebenarnya tidak sendiri sih, ada senja yang menemaniku. Menurut ku senja itu tenang dan  sering di abadikan oleh manusia manusia yang haus akan  kedamaian. Hampir setiap hari Saat jam menunjukkan pukul 17.15 aku bergegas menuju ke pantai tempat favorit ku . Tempat yang mengajarkan ku bahwa dunia itu hanya sementara dan tidak ada yang kekal , termasuk CINTA. Ayah ku pernah berkata " Nak, Mana pacarmu? Ayah tidak pernah melihatnya." 
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Menurut pemikiran ku CINTA itu sebenarnya hanya membuang-buang waktu sih, because care sama  orang yang belum tentu akan jadi milik kita seutuhnya. Jadi kalau bisa sendiri why not?.  Aku orang yang jarang berinteraksi dan sangat tertutup dengan masyarakat, bisikan dan celoteh  sering melintas di telinga ku tapi aku abaikan. Karna menurut ku hidup itu cuma sekali , jangan menghabiskan waktu dengan mendengarkan omongan orang lain. Hiduplah seolah-olah engkau bahagia tanpa hambatan . Aku menganggap senja itu sahabat , duduk di bibir pantai sambil memandangi senja yang perlahan hilang dan meninggalkan keindahan langitnya yg berwarna oranye. Hal hal inilah yang membuat ku nyaman . 

   Sampai suatu ketika dia datang di hidup ku merubah segala kehidupan ku . Dia datang dengan kesederhanaannya dan itu membuat ku tertarik utk mengenal nya lebih jauh. Haha aneh yah? Aku yang biasanya tertutup dan bodoamat dengan omongan orang lain sekarang seakan termagnet utk melihat nya lebih dekat . Manis , tapi sepertinya dia misterius . Tapi semua pemikiran ku sepertinya salah. Saat duduk di bibir pantai dia datang dan duduk di dekat ku sambil berkata " suka senja ? Hm senja yang menyakitkan" 
 Aku menaikkan alis ku seakan penuh tanya atas ucapannya tsb. "Iyaa menurut ku senja itu menyakitkan . Karena dia datang dengan segala keindahannya dan pergi secara perlahan "  ucap pemuda itu 
Aku menjawab 
" Senja memang pergi secara perlahan tapi ia berjanji untuk datang kembali " ucapku membuatnya tersenyum . Hanya ucapan seperti itulah yang membuat kita sekarang menjadi akrab dan lebih dekat . 

   Dia merubah segala sesuatu yang ada di hidup ku . Aku yang dulunya jarang berinteraksi sekarang dia memberikan ku pemahaman untuk kedepannya. Dia baik, jujur dan romantis. Aku yang dulunya tidak percaya bahwa cinta ada di kehidupan ku kini terpampang nyata di hadapan ku bahwa ada orang yang benar-benar merubah ku dari segi manapun yang menurut orang asing. Aku sangat sangat berterima kasih kepada Tuhan dan senja yg telah mempertemukan ku dengannya . Aku sering tertawa mengingat ucapan ku bahwa cinta itu membuang buang waktu dan  sekarang kenyataannya aku yang BUCIN Hahaha . Hari demi hari kita jalani bersama , menghabiskan waktu bersama di hadapan senja . Mendiskusikan soal rasa yang pernah hadir di kehidupanku dan dia . Terima kasih Senja, kau telah  menjadi saksi bisu cinta kita:).


~~~~

Mengetuk Pintu

    Di kampung kamara tepatnya jl. Pramuka terdapat anak muda masjid yang begitu baik dalam menolong umat. Di muda masjid kamara terdapat 3 program kebaikan yang dapat membantu dalam kehidupan para kaum dhuafa yang ada di kabupaten barru, 3 program tersebut di antaranya sebagai berikut; yaitu Sembako Jum'at, bekal jum'at dan beras terbaik.
      Di setiap kamis nya kami dari muda masjid kamara packing barang barang yang akan di salurkan di hari jum'at tersebut. Kami anak muda masjid kamara membagi 3 bagian untuk mengambil alih 3 program tersebu, ada yang packing sembako jum'at, ada yang packing beras terbaik bahkan ada yang packing untuk bekal jum'at. Semua dapat kami salurkan ke para kaum dhuafa karena sumbangan dari para donatur donatur yang ikut serta dalam program kami. 
       Di hari jum'at pagi, kami dari muda masjid kamara menyasar rumah rumah para kaum dhuafa yang tidak dapat menghidupi dirinya dan keluarga nya untuk memberikan bantuan kepada mereka baik itu berupa beras maupun sembako yang benar benar membutuhkan. 2 minggu yang lalu anak MMK menyasar rumah kaum dhuafa tersebut di daerah Tanete riaja dan 1 minggu kemarin kami dari daerah Mangkoso dan sekitarnya.
Begitu lah cerita kami dari Muda Masjid Kamara dan masih banyak lagi yang belum sempat di ceritakan.
Mari terus bersamai program kami😇

Jamu dengan Segudang Khasiat

  By: Nasyri’ah Nur Aisyah    Apasih yang pertama kali terlintas dipikiran kalian setelah mendengar kata 'jamu'? Dalam Peraturan Men...