Tampilkan postingan dengan label Rezki Rahayu HM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Rezki Rahayu HM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 September 2020

Ombak Kehidupan

 Oleh: Rezki Rahayu HM 

        Hai, saya akan menceritakan tentang lika liku kehiduapn saya. Di mana saya menghidupi keluarga saya , di mana saya harus bisa melanjutkan mimpi saya yang saya mimpikan dari kecil. Saya adalah anak yang hidup di keluarga sederhana, di mna saya hidup di kampung yang semua warganya hanya mengandalkan pekerjaan itu untuk hidupnya. Ya kalian tidak asing lagikan dengan sebuah kampung di pesisir pantai yang di mana kami mempunyai profesi seorang nelayan. Saya adalah salah satu dari mereka.
        Munkin kalian tidak percayah bahwa dari saya berumur 8 tahun saya mulai ikut mencari nafka demi sesuap nasi yang bisa kami makan untuk hari ini. Di mna di umur segitu seharusnya saya pergi sekolah, bermain, dan mengerjakan yang tidak seharusnya di kerjakan oleh seorang anak kecil. Di mana kami harus bangun tengah malam untuk melaut dan pulang ketika subuh, dan berangkat ke sekolah setiap pagi. Kebayang gak gimana capeknya kami? . itu semua kami lakukan katena tidak ada pilihan lain. Bagaimana kami bisa makan kalau kami tidak bekerja, bagaimana kami bisa melanjutkan sekolah kami kalau kami hanya tinggal duduk diam di rumah dan tidak berbuat sesuatu. Gak kebayang kan bagaimna di umur segitu harus memikirkan yang tidak seharusnya kami pikirkan. Munkin kami bekerja dari pagi sampai subuh dan hasil yang kami dapatkan tidak sebanding dengan keringat kami. Di mana kami harus patuh dengan orang yang berkuasa sedangkan kami, yah kalian pasti sudah tahukan.
        Di mana kami mungkin bisa makan hari ini, dan besoknya kami harus memikirkannya lagi untuk sesuap nasi, di mana kami pernah makan satu piring nasi dan lautnya hanya garam dan piring itu kami makan berempat. Tetapi kami bersyukur kami bisa makan hari ini karena kami percaya got will not give trials above the ability of his people. Dari lautlah sya dan keluarga saya bergantung bidup hingga saya dewasa dan bisa bersekolah hingga S1 dan mengerjakan pekerjaan yang lebih dari sebelumnya. Pecayalah keringatmu tidak akan menghianatimu dan Success depends on effort.

Sabtu, 12 September 2020

The fog of life

 

Oleh: Rezki Rahayu HM
Angin pun bertiup sangat kencang hingga daun-daun pun meninggalkan pohonnya, warna jingga pun menyelimuti langit di sebelah barat, azan magrib pun terdengar nyaring di telingaku. Tandanya kami harus bersiap untuk menyambut malam. Di mana aku tak pernah mengharapkan malam tiba karena rasa sakit ini selalu menghampiriku bukan sakit karena fisik tapi rasa amarah dan kekecewaan yang tak dapat aku ungkapkan. Rasanya aku ingin mengakhiri semua ini karena keluarga yang berantakan namun aku tak bisa berbuat apa-apa, aku bosan, aku lelah dengan keadaan yang memaksaku untuk tetap terlihat kuat padahal rapuh. 

Aku hidup di keluarga yang tidak harmonis. Di mana di setiap malam aku menyaksikan orang tuaku bertengkar. Di mana aku benci mendengar bentakan ayahku kepada ibuku, di mana aku benci mendengar tangisan ibuku di sepanjang malam. Dan aku sanggat benci mendengar kata" kasar yang tak pantas aku dengar oleh anak seperti aku. Dan yang paling menyakitkan seumur hidupku di mana ayahku melontarkan kata cerai kepada ibuku. Sungguh, itu adalah kata yang sangat menyakitkan. Rasanya aku ingin bertanya kepada mereka, apakah masalah harus di selesaikan dengan amarah yang memuncak? teriakan? Makian? Bahkan adegan piring terbang. Apkah tidak bisa dengan omongan baik"??. Tetapi apalah dayaku yang hanya anak kecil yang tak mengerti dan tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan orang di luar pun melabeli kami bahwa anak broken home adalah anak yang buruk. Kami juga tidak mau ada di posisi ini!. Tapi, kami tak bisa berbuat apa". Di mana kalian menggagap kami buruk, anak nakal, bebas, tidak karuan dan hal-hal negatif tentang kami. Kalian hanya pandai menilai tanpa tahu apa yang kami rasakan, dan apa yang kami alami.


Asal kalian tahu, saya juga ingin mempunyai keluarga yang harmonis, yang utuh, hidup di satu rumah yang bahagia. Mungkin bukan aku saja yang mengharapkan itu, pasti mereka di luar sana yang mempunyai keluarga broken home pasti ingin seperti itu. Tapi apalah daya kami, kami tak bisa bertindak. Kami hanya anak" yang tidak tahu menahu soal urusan dewasa tapi kami di paksa untuk menjalani semua ini, tapi kami tetap jalaninya dengan ikhlas. Meski itu berat di usia kami. Di mana kami harus merasakan kasih sayang orang tua di saat ini tapi itu tak bisa kami rasakan lagi. Rasanya aku ingin berkata kepada mereka. Ya, engkaulah orang pertama yang selalu menjaga hatiku tetapi kini engkaulah adalah orang yang membuat hatiku hancur berkeping keping bukan hanya hatiku engkau juga menghancurkan masa depan dan kebahagiaanku. Ibu engkau adalah orang yang selalu membuatku bahagia tapi sekarang aku layaknya orang yang paling menderita di dunia ini. Tuhan apakah aku boleh meminta satu hal kepadamu? Jika boleh berikan satu hari di mana di hari itu aku bisa berkumpul dengan kedua orang tuaku menghabiskan waktu bersama mereka dan merancang masa depanku kelak. Dari kejadian itulah menjadikan aku seseorang yang hebat dan kuat. Dan akanku jadikan pelajaran untuk masa depanku kelak

Sabtu, 05 September 2020

Keraguan Dalam Mimpi


 Oleh: Rezki Rahayu HM
            Aku terdiam sejenak di balkon rumah, sambil di terangi oleh sinar-sinar bintang yang begitu indah. Aku berfikir ada hal apa lagi yang Tuhan ciptakan untuk saya. Apakah itu sebuah kebahagiaan? ataukah sebuah cobaan untuk menguatkan saya? Entahlah, hanya Tuhan yang tahu. Di mana kami harus siap untuk menghadapinya. Di mana ketika matahari mulai terbit di saat itulah kita memulainya. Terkadang pagi terlalu cepat bertemu, rasanya aku belum siap untuk bertemu, tetapi, kita harus siap karena banyak hal baik yang harus kita jemput hari ini. Karena waktu terus berjalan entah itu sedih, bahagia, senang, bahkan keadaan terpuruk pun waktu terus berjalan tanpa henti, hanya saja yang membedakan waktu siang dan malam. Karena  hidup di dunia ini  tidak akan pernah seperti novel yang di mana kita bisa membuka halaman pertama untuk mengulang kejadian yang pernah kita alami. It is impossible. 

            Saya adalah seorang mahasiswa di yogyakarta dengan fakultas sastra pendidikan bahasa. Di mana saya mengambil jurusan itu karna dari kecil saya bermimpi membuat sebuah novel yang disukai dan bisa menceritakan tentang hidup saya dengan melulis, agar bisa membagi pengalama saya kepada  semua orang. Di mana cita-cita itu terus saya pertahankan hingga nantinya tiba di titik yang sepantasnya. Sejak saya kecil, saya selalu mengira bahwa  menjadi seorang penulis hanyalah pekerjaan yang gambapang. Tetapi tidak sama sekali yang seperti saya bayangkan,  Tidak semudah membalikkan telapak tangan dan mengedipkan mata. Ketika saya masuk di profesi itu barulah saya sadar menjadi seorang penulis itu tidak gampang.

            Saya selalu meluangkan waktu saya untuk menulis entah itu tentang kehiduapn saya ,sekitar saya atau bahkan imajinasi saya, bayak judul novel yang sudah saya tulis tetapi saya ragu untuk menerbitkannya karena saya takut tulisan saya tidak di sukai oleh orang lain. Tulisan-tulisan itu hanya ibu saya yang saya perlihatkan. Dan semua keluh kesahku, saya menceritakanya kepada ibu saya. Ibu saya selalu berkata "Nak Daun yang jatuh tak perna membnci angin'', kau harus seperti itu kamu membiarkan diri mu terjatuh begitu saja, dan tak melawan dan selalu mengikhlaskan karena akan tiba di saat di mana kamu tidak akan ada yang menjatuhkanmu lagi. Tetapi ketika kamu tidak bertindak hanya rasa keraguaan yang kamu tanamkan di dirimu percayalah your will never succeess. Sejak itulah saya berani memperlihatkan tulisan saya. Pertama hanya teman-teman saya terlebih dahulu kuperlihatkan ternyata mereka bilang tulisanku sangat bagus. Aku mendapatkan semangat dari keluarga dan temen-temenku saat itu juga lah aku berani untuk menerbitkan buku saya, banyak hal  saya lewati sampai saya tiba di titik itu. Saya menulis pagi sampai pagi, begadang, pola makan tidak teratur. Tetapi semua itu terbayarkan. Buat kalian yang masih ragu, get rid of your doubts, and act

Minggu, 30 Agustus 2020

Keringat Kebahagiaan


Oleh: Rezki Rahayu HM

Di suatu desa hiduplah seorang anak yatim piatu dan dia mempunyai adik laki-laki dan perempuan ibunya meninggal di saat ia ingin berangkat bekerja, dia di tabrak oleh  orang yang tidak bertanggung jawab dan saat itu adik laki-lakiku berumur 7 tahun. Dan ayah depresi tidak bisa menerima kematian istrinya tersebut, dan ia pun mengikuti istrinya ke pangkuannya Allah swt. Dan saat itulah saya memulai cerita ini. Di mana saya adalah seorang kakak yang harus menghidupi adik-adiknya. Umurku sekarang 13 tahun, adik perempuanku 10 tahun dan adik laki-lakiku berumur 7 tahun. 

Di mana saya mempunyai tugas yang sangat berat karena saya harus menghidupi keluarga saya yaitu adik-adik saya .sejak kami ketinggalan orang tua kami, kami tidak tahu harus ke mana dan pada siapa kami harus membagi luka kami sedangkan kami tidak mempunyai sodara ataupun kerabat Tetapi kami harus tetap berjuang untuk bisa hidup. kami masih tinggal di rumah peninggalan orang tua kami. Tetapi kami bingung kami nanti makan apa, bagaimna kami bisa melanjutkan sekolah kami bagaimna kami bisa bertahan hidup di dunia yang kejam ini. Aku sekarang menduduki bangku kls 1 SMP dan aku memutuskkan untuk berhenti sekolah demi bisa bekerja untuk memenuhi kebutuhan adik-adik saya dan bagaimana saya bisa mengumpulkan uang untuk bisa menyekolahkan adik-adik saya agar tidak seperti saya. Dari tekat itulah saya bekerja keras sebagai kuli panggul, ojek payung, dan lainya atau bahasa halusnya adalah kerja serabutan. Ya, itulah yang saya kerjakan demi sesuap nasi agar adik-adik saya bisa bersekolah, kami hanya makan dari sisa-sisa beras yang saya pungut di pasar agar kami bisa makan. Karena saya tidak bisa melihat adik-adik saya kelaparan. Dimana saya rela kerja serabutan, tidak makan, di maki-maki orang yang penting adik-adik saya bisa makan dan tetap tersenyum.

Waktupun berjalan dengan begitu cepat hingga saya dewasa dan masih mengandalkan Pekerjaan serabutan. itulah yang sya kerjakan hingga saya berumur 22 tahun dan dari situlah sya bisa menghidupi keluarga saya agar tidak kelaparan dan bisa membiyayai sekolah adik-adik saya di mana adik saya yang perempuan bentar lagi ingin memasuki perguruan tinggi, dan yang laki-laki menduduki kls 1 SMA betapa bahagia saya karena saya bisa menyekolahkan mereka meskipun saya harus mengorbankan cita-cita dan impian saya demi adik-adik saya bisa bersekolah. Di mana saya tidak perna menyuruh adik saya untuk bekerja saya hanya ingin dia terus belajar dan bisa menggapai cita-citanya dengan itulah saya bisa bangga dan perjuangan saya selama ini tidak sia-sia. Meskipun adik saya ingin sekali membantu saya. Hingga suatu ketika adik saya menyelesaikan sekolahnya. Betapa bangganya saya melihat adik saya memakai baju sarjana dan memakai toga di kepalanya yang saya impikan sejak kecil yang tidak bisa saya ujudkan. Tetapi semua itu terujudkan berkat tekat adik saya yang terus bekerja keras demi bisa sampai di titik itu.


Barru, 30 Agustus 2020. 

Rabu, 26 Agustus 2020

Cantik Tapi Luka


          


        

Oleh: Rezki Rahayu HM
         
Hai perkenalkan nama saya Cinta, aku tinggal di sebuah desa kecil bersama keluargaku. Aku dulunya tinggal di kota bersama keluargaku, ayahku bekerja di sebuah bank terbesar di kotaku tapi ketika ayahku pensiun aku kembali ke kampung ayahku. Selama aku tinggal di kota ayah aku tidak pernah manjain aku, aku selalu hidup mandiri di mana aku harus bisa biyayain sekolah aku sendiri, di mana aku bisa memenuh kebutuhan aku tanpa repotin orang lain, ayah aku sudah tanamkan itu sejak aku kecil. Jadi, untuk hidup di desa itu tidaklah sulit. kami di terima dengan baik di kampung itu. Jelas hidup di kota dengan hidup di desa sangat berbeda. di mana di desa masih mempertahankan budi pekerti orang dahulu /leluhurnya, berbeda dengan di desa yang hidup modern, dan sedikit dari mereka yang sudah lupa akan budi pekerti mereka.
          Setelah aku pindah di kota itu aku adalah salah satu gadis tercantik yang ada di desa itu, kata merekasih. Selama aku tinggal didesa aku sering pergi ke sawah untuk membantu ayahku dan membawakannya makan siang. Tidak ada yang berubah dari saya, saya masih  memakai pakaian kota, bersikap seperti orang kota. Meskipun begitu aku masih bersikap baik dengan orang kampung tersebut, aku ramah, tidak sombong dan banyak bergaul dengan perempuan-perempuan dari desa tersebut. 
           Hingga suatu ketika masalah muncul, hingga aku di asingkan oleh penduduk desa entah itu karna apa aku tidah tahu, aku di anggap menbawa bencana di kampung, aku di anggap pembawa sial. Karena aku sedikit mengajarkan pekerjaan yang ada di kota seperti, salon, bagaimana menggunakan elektronik, bagaimana berbahasa inggris dll. Hingga aku di kira menghasut para wanita desa untuk pergi ke kota, padahal tidak sama sekali. Karena perempuan-perempuan desa berlaga seperti orang kota dan ingin pergi ke kota untuk mencari pekerjaan. Di mana di desa itu masi kental dengan kepercayaan bahwa perempuan itu tugasnya di dapur tidak untuk bekerja. Come on, this is the modern era no one believes anymore!!. 
   

Minggu, 16 Agustus 2020

Senja Tersenyum Manis

 
Oleh: Rezki Rahayu HM
           Hari ini di mana aku duduk di tepi pantai menunggu matahari terbenam yang Tuhan ciptakan untuk bumi dan ummatnya. Di mana ketika matahari mulai terbenam di saat itulah yang kami tunggu-tunggu telah tiba, di mana seseorang bisa mencurahkan isi hatinya kepada senja, mungkin sebagian orang ada yang menceritakan tentang keluarganya, kehidupannya, pasangannya, dan sebagainya. karena setiap orang mempunyai masalah hidup yang berbeda-beda.
            Di mana aku pun salah satu dari mereka yang mempunyai masalah, senja tidak bisa memberikan nasihat kepada kami tentang masalah yang yang kami hadapi masing-masing, tetapi senja punya cara tersendiri bagaimana dia merespon kami. senja tersenyum tipis seakan-akan dia mengatakan semangat ada hikmah yang kamu dapatkan dari masalah yang Tuhan berikan kepada engkau.. dan seakan-akan ombak juga mengatakan kepada kami god will not give a trial above the ability of his ummah. 
          Seakan-akan kami di beri motivasi untuk tetap semangat menjalankan cobaan yang diberikan Tuhan kepada kami. Seakan-akan kami tidak mengalami ujian itu sendiri, dan beban yang kami pikul ini terasa ringan. kami tidak mengeluh tentang cobaan yang diberikan Tuhan kepada kami, kami hanya butuh tempat di mana  kami bisa mencurahkan isi hati kami. 


Sabtu, 08 Agustus 2020

Painful Longing

        

       Oleh: Rezki Rahayu HM
     Di sebah desa hiduplah serang anak piatu ia tinggal bersama ayah dan neneknya. Ibunya meniggal sejak dia masih kecil. Ia tak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Tetapi ayahnya selalu berusahan untuk menjadi ayah sekaigus ibu bagi ia.
    Ia sekarang sudah menduduki bangku kelas 3 SMP, karena kebutuhan yang sangat meningkat memaksakan ayahnya untuk pergi merantau. Esok harinya diapun mengantar ayah ke pelabuhan untuk berangkat. Dia melepaskan ayahnya dengan sangat berat hati.
     Waktupun berjalan dengan cepat ia sekarang sudah menduduki bangku kelas 2 SMA. Ayahnya pulang satu kali sekali sebulan tetapi bulan ini ayahnya tak kunjung pulang. Diapun mendapat kabar bahwa kapal yang di tumpangi ayahnya terbakar. Diapun syok dan tak bisa betkata apa lagi. Dia merasa ini semua cuma mimpi. Serasah duniaya seakan hancur tiba-tiba. 

Selasa, 28 Juli 2020

The inner voice of 2020

 Oleh: Rezki Rahayu HM
         Saya akan mewakili suara hati para angkatan 2020. Angkatan yang banyak di remehkan oleh banyak orang, angkatan yang banyak di nyiyir oleh banyak orang, angkatan yang di sebut angkatan corona. Mereka bilang kami lulus karena covid 19, tanpa perjuangan, tanpa ujian nasional.
           Sebagian orang memangdang kami ada kesenangan di dalamnya, sekolah di rumah, UN di hapus, apakah ini kesenangan bagi kami?, tentu tidak!, kami sudah persiapan habis-habisan untuk menghadapi UN dan kami gagal sebelum bertempur karena covid 19. Kami sangat kecewa daripada ketakutan kami selama ini.
        Apakah kami punya pilihan? Tidak, kami harus ikhlas, seikhlas- ikhlasnya. Belajar dengan sistem baru yang tidak biasa. Perpisahan yang sudah kami rangkai sedemikian rupa kini hanya tinggal wacana. Tidak ada perpisahan, tidak sempat berterima kasih kepada guru, tidak sempat berjabat tangan dan berpelukan kepada teman-teman, tidak sempat mengucapkan selamat tinggal dan semoga sukses, semua itu kami harus ikhlas. Apakah kalian masih meganggap kami lulusan corona, lulusan yang lemah??? Justru kami lulusan yang paling tegar. Kami harus tegar dan berusaha untuk menata masa depan dan ada pimpi yang harus kami wujudkan. Di balik kejadian ini tuhan pasti punya rahasia sendiri dan punya hikmah yang lebih baik dari pada ini.

Rabu, 22 Juli 2020

HUJAN



  Oleh Rezki Rahayu HM
     Hai perkenalkan nama saya Raina, kamu pasti tahukan arti kata Rain, ya benar sekali Hujan. Seperti namaku aku suka hujan. Hujan adalah keajaiban tuhan yang di ciptakan untuk ummatnya. Suatu hari aku berdiri di bawah derasan air hujan dan akupun meminta kepada tuhan untuk mengirimkan seseorang untuk bisa bersamanya dalam menikmati keajaibanmu tuhan. Dan ada seorang laki-laki datang memeyungiku akupun langsung pergi karena aku masih ingin menikmati derasan air hujan. 
     Akupun bergegar pulang tidak sengaja aku menabraknya "maaf maaf" , "iya tidak papah kok" akupun langsung menaiki bis dan bisnya pun berjalan. Keesokan harinya akupun bertemu dengannya lagi di bawah derasan air hujan tetapi yang anehnya dia tidak membawa payungnya. Aku bertanya dalam hati " tuhan apakah ini orang yang kamu kirimkan ". Lama kelamaan kami semakin akrap dan bermai hujan bersama ketika hujan turun. 
     Pertemanan kami berjalan hingga 6 bulan dan aku merasa bahagia ketika aku berada di dekat dia sampai suatu ketika dia bercerita kepadaku umurnya tidak akan lama lagi, aku syok sambil bertanya "empangnya kamu kenapa kok bisa bicara begitu ", "aku mengidap penyakin kanker " akupun lansung diam dan tidak tau mau bicara apa. Hingga hujan turun hujan itulah yang terakhir kali saya nikmati bersama dia.

Jamu dengan Segudang Khasiat

  By: Nasyri’ah Nur Aisyah    Apasih yang pertama kali terlintas dipikiran kalian setelah mendengar kata 'jamu'? Dalam Peraturan Men...