Tampilkan postingan dengan label Alfani Rismaenita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Alfani Rismaenita. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 September 2020

Diary Korban Bullying

 

ALFANI RISMAENITA

          Yeyy... ini hari pertamaku bersekolah di jenjang SMA. Aku bersekolah di salah satu SMA terfavorit di daerahku. Walaupun pernah ada rumor tentang salah satu siswi yang bunuh diri, itu tidak meruntuhkan semangatku bersekolah disini. Menurutku ini sekolah yang aman. Oh iya, kenalin namaku Indah, umurku masih 15 tahun 4 bulan 2 hari. Setelah beberapa minggu bersekolah disini, aku mengenali beberapa orang teman. Rumor setahun yang lalu juga sudah mulai terlupakan, lagipula penyebab pasti siswi itu bunuh diri masih belum diketahui, kasusnya juga sudah ditutup. Suatu hari, saat pembelajaran berlangsung, aku kebelet banget buang air kecil, aku minta izin kepada guru untuk ke wc. Setelah buang air aku membuka pintu wc dan hendak ke kelas, namun... “aww...” aku meringis kecil, ada buku yang terjatuh dan mengenai kepalaku. Buku kecil yang sudah lusuh berdebu, sepertinya ini diary seseorang. Entah kenapa tanpa piker panjang aku membawa diary itu ke kelas dan menyimpannya di tasku. Aku melanjutkan pelajaran seperti biasa.

          Setelah pulang sekolah aku langsung mandi sore dan istirahat dikamar. Tiba-tiba aku mengingat diary yang kudapatkan tadi. Aku mencari tasku dan kudapati buku itu. Pelan-pelan aku membuka dan membacanya. Dilembaran pertama aku menemukan tulisan yang bertuliskan “Milik Annona Oktaviasari”. Sepertiya aku pernah mendengar nama itu entah dimana, mungkin saja kakak kelasku. Aku lanjut membuka halaman per halaman karena penasaran. “senin, 4 Maret 2019. Hanya Via yang tuntas ulangan dan mereka membenci Via.” Lanjut pada halaman berikutnya, “rabu, 6 Maret. Mereka orang-orang jahat.” Aku penasaran, siapa orang yang dimaksud, aku terus melanjutkan membaca. “ jumat 8 Maret. Mereka menyakiti Via bahkan saat Via tak bersalah. Senin, 11 maret. Mereka terus menjahili Via, Via ingin pergi!!”.  Aku membacanya semakin serius “Rabu, 13 maret. Via bercerita pada Andin untuk mulai berusaha menjauhi Zafran. Dan inilah saatnya!! Jika nanti sudah waktunya, akan kubalas satu-satu.” Hanya sampai disitu. Tak ada tulisan selanjutnya. Aku penasaran siapa sebenarnya Via ini. Namun tak kudapati jawaban atas itu. Akupun tertidur dan bermimpi yang sangat panjang. Aku melihat 3 orang siswi sedang menjahili seorang wanita yang tidak kukenali. Dijambaknya rambutnya, dipaksanya mengerjakan tugasnya, dibentaknya untuk menjauhi laki-laki yang diinginkan. Mimpiku sangat buruk malam itu. Paginya aku terbangun dengan perasaan yang aneh, aku merasakan sedih yang teramat dalam. Aku bergegas mandi dan bersiap untuk sekolah.

         Disekolah aku bertanya-tanya kepada guru tentang siapa Annona Oktaviasari yang menyebutkan dirinya sebgai Via dalam diary ini. Namun semua guru seakan menutup mulut dan diam seribu bahasa. Aku langsung saja memberikan diary yang kubaca semalam kepada ibu Gina. Dan ibu Gina hanya menangis membacanya. Ia pun mulai menceritakan semuanya. Dan ternyata pemilik diary ini adalah Via, siswi cantik  dan cerdas yang bunuh diri setahun yang lalu. Ibu Gina juga baru mengetahui bahwa Via bunuh diri karena tak tahan oleh sikap 3 temannya ini. Namun, saat ini 3 orang ini tidak lagi bersekolah disini. Shifa, ia yang mengompori 2 orang temannya untuk membully Via sekarang sudah berada di rumah sakit jiwa dan terus saja mengucap kata maaf. Nana, orang yang selalu menjambak rambut Via, memaksa Via untuk mengerjakan tugasnya, dia pun sama berada dirumah sakit jiwa dengan tatapan kosong. Seperti orang yang memiliki kesalahan besar. Dan yang terakhir Nisa, orang yang membentak Via agar menjauhi Zafran, lelaki yang ia sukai. Nisa sudah meninggal 2 bulan setelah Via bunuh diri. Ia terjatuh dari lantai 3 disekolah. Setelah bu Gina menceritakan semuanya, aku jadi yakin bahwa ini maksud Via akan membalasnya satu-satu. Aku meminta kembali diary itu, namun aku mendapatkan tulisan baru di halaman terakhir. “Kau adalah orang asing yang mengetahui semua ceritaku, namun terimakasih kau sudah memberitahu pada guru favoritku.” Aku membacanya dan mungkin saja pesan itu untukku. aku melihatnya tersenyum dan melambaikan tangan padaku. Dan, lewat pentigraf ini aku berdoa agar tidak ada lagi korban bullying dimanapun.


Cinta Dan Rahasia Tuhan

 

 ALFANI RISMAENITA

         Bagaimana rasanya bersusah payah untuk move on, tapi ternyata jodohmu adalah mantanmu sendiri. Namaku Riska, dan ini cerita tentangku. Waktu aku masih duduk di bangku SMA aku memiliki seorang kekasih. Kita sudah lama menjalin hubungan, mungkin sekitar dua setengah tahun. Namanya Damar, laki-laki berbadan tinggi, hitam manis,  anak tongkrongan, perokok, tukang bolos kelas, memang sepengetahuan guru-guru, Damar adalah anak nakal yang tidak tahu aturan. Meski begitu, bagiku Damar adalah laki-laki yang manis serta penuh perhatian. Kadangkala pula sifat manjanya keluar. Tentu saja sikap manja itu hanya diperlihatkan padaku, kekasihnya kala itu.  Saat lulus SMA, seperti bisanya angkatan kita merayakan dengan cara yang sedikit nakal, kita semua saling corat-coret pakaian seragam. Setelah itu kita keliling-keliling berkendara motor yang entah apa tujuan sebenarnya. Sorenya, aku diajak Damar ke tongkrongannya, berkenalan dengan temannya tidak buruk juga ternyata, walaupun hidungku pengap karena asap rokok teman-teman Damar.

          Setelah pulang tongkrongan, Damar berencana ingin membawaku kerumahnya seperti biasa membantu ibunya menyiapkan makan malam. Namun setelah sampai tidak ada siapa-siapa dirumahnya. Kami hanya menemukan secari kertas bertuliskan “Hari ini ibu dan ayah pergi menjemput adikmu di bandara, ibu sudah menyiapkan makan malammu diatas meja, Love.” Karena hal ini tidak sesuai rencana awal kami makanya kami hanya memakan makanan diatas meja itu berdua. Benar-benar berdua. Setelah makan kami menonton tv. Saat menonton seperti biasa, Damar bersikap manja kepadaku. Minta tangannya digenggam, minta kepalanya dielus. Posisi kita terlalu dekat , lagipula dirumah ini hanya ada kita berdua. Damar memelukku erat sekali, mencoba melakukan aksinya. Hampir saja ia berhasil menciumku, namun aku menolak. Menangkisnya dan berkata bahwa tak sepantasnya kita melakukan itu. Menceramahinya beberapa menit lalu memintanya untuk segera mengantarku pulang. Sampai dirumahku dia hanya member salam kepada ibuku lalu kembali pulang. Mood ku benar-benar hancur kala itu, aku tak menyangka Damar hampir saja melakukan itu padaku, aku langsung mengambil handphoneku dan mengirim pesan pada Damar bahwa aku sudah tidak mau melanjutkan ini semua. Aku akan fokus kuliah, dan aku sadar akan dosa yang pernah kulakukan. Aku sadar pacaran itu dosa,atas dasar itu aku mencoba mengikhlaskan Damar. Mencoba belajar agama, dan Damar juga tahu itu.

          Setelah itu kami benar-benar lost contac, dia kuliah di luar kota dan aku kuliah dekat tempat tinggalku saja. Aku benar-benar belajar agama selama beberapa tahun terakhir ini dibarengi dengan mata kuliahku. Tiba akhirnya aku diwisuda, dan diterima bekerja di salah satu perusahaan. Dan aku sudah siap juga untuk menikah. Aku menscrool facebook ku lalu mendapati situs tempat orang-orang bertaaruf yang sudah siap untuk menikah. Tentu saja ini sesuai dengan syariat yang sudah kupelajari. Setelah masuk ke situs tersebut beberapa minggu aku diminta oleh seorang udstaz bertemu di salah satu cafe dalam rangka mempertemukan aku dengan calon yang dimaksud. Kita sudah menentukan tanggal. Dan pada saat aku ke cafe itu, aku melihat seorang udstaz dan seorang pria berbicara dengannya membelakangiku. Lelaki itu berbalik, percaya atau tidak aku mengenalinya. Damar, mantan kekasihku beberapa tahun yang lalu. Mataku berkaca-kaca, rasanya tak dapat kuceritakan, aku berlari kearah motorku dan segera menuju rumah. Aku menangis sejadinya, aku mengingat kembali masalalu saat aku masih bersamanya. Esoknya dia datang kerumah, tiba-tiba bersama keluarganya datang berniat untuk melamarku. Dia juga menceritakan bagaimana ia juga berusaha melupakan masalalu yang buruk dan dia juga belajar agama dengan sungguh hingga kembali bertemu denganku. Singkat cerita kami melangsungkan pernikahan dan bahagia. Aku percaya, jodoh adalah cerminan diri. Aku dan Damar yang pernah melakukan dosa besar yang disebut pacaran, lalu belajar agama, dan kembali dipersatukan dengan keadaan yang lebih baik dan jalan yang diridhoi-Nya. Cinta benar-benar rahasia Allah, yang tidak kita tahu kapan waktu yang tepat untuk merasakannya.


Sabtu, 05 September 2020

LAST GAME

 OLEH ALFANI RISMAENITA


            Di suatu malam, langit menangis, seakan menemani sekeping hati yang sunyi. Aku menghadap ke jendela kamarku. Angin malam terasa menusuk hingga ke tulang. Malam masih sama, tetap sepi tanpa sapamu. Tetap sendu tanpa senyummu. Tetap dingin tanpa hangat tawamu. Malam tetap saja sunyi tanpamu,kesunyian yang membawaku kedalam cerita masalaluku. Ini bukan tentang cinta, ini tentang persahabatan. Bukan apa, aku hanya rindu padamu, rindu pada kisah kita dimasa itu. Akan kuceritakan kembali, siapa yang tahu disana kau akan melupakan aku. Kala itu diusiaku yang menginjak tiga tahun, kau datang tiba-tiba menghuni rumah kosong yang ada disamping tempat tinggalku, dan hal itu menjadikan kita tetangga. Aku yang pemalu bersembunyi dibalik daster ibuku yang sedang membantu keluargamu beradaptasi di lingkungan yang mungkin saja masih asing bagimu. Aku melihatmu tersenyum padaku, ingin kubalas namun rasanya aku dikalahkan oleh rasa malu. Esok berikutnya, masih sangat pagi kulihat kau sedang membantu ibumu menyiram bunga yang ada dihalaman rumahmu. Kau melihatku dibalik jendela ini, kembali lagi kau tersenyum serta melambaikan tangan padaku. Kau selalu saja seperti itu hingga aku bosan, dan berusaha mengalahkan rasa malu. Hingga pada akhirnya kita berkenalan lalu bermain bersama setiap hari, tanpa terkecuali.

            Waktu itu jaman belum canggih, kita hanya bermain permainan tradisional. Bermain petak umpet, bola bekel, kejar-kejaran, lompat tali karet, dan juga bermain masak-masakan. Kau ingat masa itu?? Kalau kau bertanya kembali dengan pertanyaan yang sama, maka tentu akan kujawab bahwa aku tidak akan pernah melupakannya. Waktu itu, setiap hari rasanya menyenangkan saat bersamamu. Kita berteman bertahun-tahun. Naik SMP kita sudah tidak bermain anak-anak lagi. Tapi kita tetap bersahabat. Namun entah kenapa, tiba-tiba kau mengajakku bermain petak umpet kembali seperti dulu. 3 hari berturut kita selalu bermain petak umpet. Sampai dihari berikutnya, kau mengatakan padaku bahwa kau akan pindah ke luar kota, mengikut ayahmu yang akan dipindah kerjakan. Kita menangis bersama saat itu, sampai kau menguatkan hati dan berkata "Last Game!!" Dengan mata yang masih berkaca-kaca. Yah!! Last game,, kita kembali bermain layaknya anak-anak. Sampai maghrib tiba, kau mengatakan kalau esok subuh kau sudah harus berangkat ke bandara. Kau memberikan topi yang selalu kau kenakan dan sampai sekarang aku masih menyimpannya rapih. Sekali lagi maaf, waktu itu aku tidak bisa mengantarmu ke bandara, karena akupun harus bersiap ke sekolah.

           Sepulang sekolah aku merasa ada yang kurang dari diriku. Kucoba melepas kebosanan dengan menonton televisi. Namun apa yang kukihat bukanlah berita yang baik. Pesawat yang kau tumpangi mengalami kecelakaan. Hatiku hancur sehancur hancurnya. Tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Sahabat terbaikku harus kehilangan nyawa karena kecelakaan itu. Sampai sekarang aku pun belum bisa mendapatkan sahabat sebaik kamu. Hal yang tersakit saat aku melihat foto kita bersama. Kita bersama tumbuh dan dewasa. Yang bisa kulakukan hanyalah mendoakanmu selalu, sahabatku. Usai sudah aku mengingat sedikit kisah tentang kita malam ini. yang kutahu, hidup selalu memberikan kesempatan kedua bukan? itu yang disebut hari esok. serumit apapun keadaan, berapapun tetesan airmata yang jatuh, aku hanya ingin menjadi dewasa menyikapi ini semua.Tak semua hal harus ada jawabannya sekarang, aku yakin tuhan punya rencananya sendiri dengan memisahkan kita. Dan aku harus bergegas tidur agar ketenangan dapat menyelimuti kegundahanku malam ini.

 


Senin, 24 Agustus 2020

FIRST LOVE

 

OLEH: ALFANI RISMAENITA

          Yang terlihat belum tentu ada, yang ada belum tentu terlihat. Perkenalkan, namaku Maya. Aku memang bisa melihat apa yang tidak bisa orang lain lihat. Yah.. benar, aku salah satu anak indigo. Bukannya merasa senang, namun sebetulnya ini menjengkelkan. Kau tahu seberapa risih aku diganggu oleh mereka setiap hari? Kau tahu seberapa risih aku yang selalu dikatakan aneh oleh teman-temanku disekolah? Oh tidak!! Ini benar-benar mengangguku. Gara-gara kemampuan yang tidak diinginkan olehku ini teman-temanku menjauhiku, disekolah aku hanya memiliki 2 teman dekat Xaviera dan Aura. Kata ibuku, memang dari kecil aku sering berbicara sendiri. Ibuku juga pernah membawaku ke “orang pintar” untuk menutup mata batinku. Namun tidak ada hasil, aku masih saja bisa melihat hantu-hantu yang menjengkelkan itu. Banyak sekali kejadian yang aku alami sejak aku bisa melihat mereka. Kau tahu? Hantu yang paling unik itu pocong. Pernah gak sih kamu ngebayangin ada mayat diiket kain putih lusuh terus loncat-loncat? Tentu terdengar lucu kan? Namun aku bersahabat dengan salah satu pocong yang tinggal di kebun pisang belakang rumahku. Selama aku hidup, kejadian paling aneh itu aku pernah jatuh hati pada salah satu hantu yang ada disekolahku.

          Cerita nya berawal dari hari pertama aku masuk di-SMA. Menjadi siswa baru di salah satu SMA boarding school di daerahku, dan aku masih satu sekolah dengan dua sahabatku itu, bahkan kami sekamar di asrama sekolah. Tentu saja sebagai murid baru kami diwajibkan untuk mengikuti masa orientasi atau pengenalan sekolah. Siang itu saat matahari tepat berada diatas kepala kami para siswa baru disuruh berbaris ditengah lapangan. Hal ini benar-benar menjengkelkan. Namun tiba-tiba aku melihat siswa berbaju putih abu-abu namun dengan wajah pucat duduk dibawah pohon mangga. Aku terus memandangi pria itu, saat dia sadar aku terus memperhatikannya dia menoleh dan tersenyum kearahku. Saat itu juga aku sadar bahwa dia bukan manusia, tapi hantu. Menyadari hal itu sontak saja aku memalingkan wajah berpura-pura tak melihatnya. Singkat cerita saat bell istirahat berbunyi Aku, Xaviera dan Aura menuju kantin untuk membeli cemilan. Tiba-tiba hantu berseragam SMA itu mendekat dan berbisik ditelingaku, “Aku lebih suka yang berpura-pura” katanya. Mendengar itu aku langsung teriak dan tentu saja semua mata menuju ke arahku, memandangku seperti orang aneh. Kedua sahabatku sudah pasti tahu ada apa, mereka menemaniku kembali kekelas. Hari-hari berikutnya hantu itu selalu mengikutiku, bahkan sampai masuk di asrama hanya sekedar berbisik dan meminta pertolongan. Aku yang sudah merasa sangat terganggu akhirnya mengiyakan pertolongannya. Ia hanya minta diajari agar bisa lulus UN, karena ia merasa ia tidak dapat menuju akhirat karena tidak melaksanakan UN. Aku yang mendengar itu tentu saja tertawa terbahak-bahak. Hantu pria bodoh mau lulus UN?? Ini cerita konyol. Ia juga bercerita sudah dua bulan lebih dia menjadi hantu, dan mencari orang yang tepat untuk membantunya. Namun hanya aku yang bisa melihatnya. Ia melupakan siapa orangtuanya dan dimana ia tinggal, ia melupakan sebab kematiannya. Ia hanya tau satu hal yaitu namanya, Rio. Karena hanya namanya yang tertulis di seragamnya, namun ia tak memasang lambang nama sekolahnya, jadi sulit bagiku mencari tahu tentang dia. Aku dan Rio sering belajar bareng, dia hantu pria yang sangat bodoh yang pernah kutemui. Mungkin sekitar tiga bulan kami bersahabat beda alam, entah ini ilusi atau sugesti, aku seperti merasa jatuh cinta untuk yang pertama kali, namun yang menjadi penyesalanku, mengapa cinta pertamaku jatuh pada makhluk yang berbeda denganku?

           Hari itu ia menyatakan cintanya padaku, aku tidak bisa berbohong, karena aku juga menyukainya. Sekarang kami dekat bukan hanya sebagai sahabat, tetapi sebagai kekasih. Aneh rasanya memiliki pasangan yang jelas tidak bisa dilihat dan diseritakan pada sahabatmu sendiri. Seminggu setelah menyatakan cinta, tiba-tiba saja Rio menghilang. Aku tidak menemukannya dimanapun. Aku merasa benar-benar seperti orang bodoh! Bisa-bisanya aku dibohongi oleh hantu pria macam Rio. Akhirnya aku mencoba move on dari dia, namun tidak semudah membalikkan telapak tangan. Setelah hampir tiga minggu aku berusaha melupakan dia, tiba-tiba saja aku mendengar kabar bahwa siswa yang telah koma beberapa bulan akibat kecelakaan akhirnya kembali kesekolah. Aku tidak tahu siapa siswa itu, dan sepertinya aku tidak mau tahu. Saat istirahat tiba aku dan dua sahabatku tentu saja menuju kantin, dan kau tahu apa yang kulihat disana? Aku melihat Rio sedang berbincang bersama kakak kelasku. Aku yang melihat itu segera mendekatinya dan langsung bertanya, “Kemana saja kau selama ini?”. Mendengar pertanyaanku, Rio memasang wajah kebingungan. Ia sepertinya tidak mengingatku. Ahh aku merasa malu, tiba-tiba bertanya seperti itu pada laki-laki yang baru saja sadar dari komanya. Kurasa ia tidak mengingat masa dimana ia menjadi hantu, ia tidak mengenaliku dan menganggapku seperti wanita aneh. Cinta pertamaku kali ini benar-benar gagal.


Selasa, 18 Agustus 2020

MY TWINS

 OLEH: ALFANI RISMAENITA

             Kematian saudari pasti tidak terlepas dari kata sedih. Apalagi jika yang meninggal adalah saudari kembarmu sendiri. Namun, pernahkah kamu membayangkan akan melihat kuburanmu sendiri?? Namaku Fani aku punya saudari kembar, Fina namanya. Kami kembar identik, kemiripan wajah dan tubuh kami memberi kami kesempatan untuk bertingkah jahil. Kami sering bertukar posisi dia kadang menjadi aku, dan akupun sebaliknya. Kami berbagi tempat tidur yang sama, disekolah kami duduk di kelas yang sama. Kami selalu melakukan kegiatan apapun secara bersama. Bahkan kami menyukai pria yang sama, namun akhirya pria itu berpacaran dengan Fina bukan denganku. Wajah kami memang mirip namun entah kenapa aku merasa tidak begitu, dia lebih menarik dariku, dia lebih popular, bahkan dia lebih disayang oleh orangtuaku. Kata orang, jika salah satu anak kembar merasakan sakit maka kembarannya juga akan merasakan hal yang sama walau terpisah jarak yang sangat jauh. Tolong kali ini percaya padaku!! Hal itu tidak benar, Fina tidak pernah merasakan sakitku, dan aku pun sebaliknya. Dia hidup bahagia sedang aku hidup dalam depresi.

             Aneh memang melihat kuburanmu sendiri, Bahkan lebih aneh kau melihat namamu terukir di batu nisan beserta tanggal kelahiran serta kematianmu disana. 'FANI, lahir 29 February 1998, wafat 23 Maret 2020'. Malam itu, aku dan saudariku  meminta izin agar pulang terlambat. Aku mengatakan akan datang ke pesta temanku sedang saudariku akan lembur kerja malam itu. Yah, memang benar dia sudah mendapat pekerjaan yang bagus, sedang disini aku masih menjadi pegangguran. singkat cerita setelah pulang, aku lagsung tidur nyenyak dikamar namun saudariku belum juga pulang. Mungkin sekitar pukul tiga dinihari aku dibangunkan oleh suara dering telepon rumahku. Mungkin ibu dan ayah masih tertidur nyenyak karena itu aku beranjak dari kasurku menuju lokasi telepon rumah. Segera kuangkat telepon itu. “Dengan keluarga dari Fani??” Tanya laki-laki diseberang telepon sana. “Ya, aku saudarinya” jawabku. “Maaf telah mengganggu jam tidurmu namun kami menemukan saudarimu tewas disamping lokasi bar yang semalam menjadi lokasi party. Kami menemukan bekas tikaman sepuluh kali tepat pada bagian dada kirinya. Kami berharap agar keluarganya dapat segera datang ke lokasi untuk mengidentifikasi korban.” Jelasnya. Aku segera menutup telepon dan mengetuk pintu kamar orangtuaku. Setelah mendengar ceritaku, ayahku segera mengambil kunci mobil lalu kami bertiga menuju lokasi yang disebut tadi. Sesampainya disana, aku melihat mayat saudariku disana. Bagaimana aku tak mengenalinya, kami punya wajah dan tubuh yang sama. Aku menahan tangisku sedangkan ibuku sudah jatuh pingsan disana. Seorang detektif mengajukan pertanyaan yang kujawab satu persatu. Dan sepertinya dia sedikit terkejut mengetahui bahwa kami bukan sekedar saudari, namun juga kembar identik. Detektif itu berpikir bagaimana jika sang pembunuh itu salah target? Detektif juga menemukan motif pembunuhan yakni perampokan, namun yang aneh adalah satu-satunya barang yang diambil hanyalah handphone saudariku. Ini menjadi semakin rumit.

             Setelah meninggalkan kantor polisi, pemakaman pun berlangsung. Tidak ada tangisan, aku hanya ingin tertawa. Kekasih baruku datang dan turut mengucap bela sungkawa atas kematian saudariku. Setelah pemakaman selesai ayah ibu masih ingin tetap disini untuk membacakan ayat suci kepada saudariku. Aku pulang lebih dulu diantar oleh kekasihku. Di dalam mobil aku mengambil handphone ku dan membuka pesan teks. Dari Kak Fina: Tentu saja aku akan menjemputmu, share lokasimu yah... (Hapus) Dari Kak Fina: Aku sudah ada di samping bar tempat partymu, kamu dimana? (Hapus). Haha dia sudah dikubur dengan namaku. Karena hanya nama yang bisa membedakan kami. Kekasihku dengan tenang menyetir mobil tanpa tahu bahwa kekasihnya telah meninggal. Dulu saudariku punya segalanya. Dia punya pekerjaan yang bagus, orangtua yang sayang padanya, ditambah lagi kepopuleran serta punya kekasih yang tampan. Tapi kali ini, semuanya milikku. Benar-benar semuanya. Maafkan aku Kak Fina sayang, terkadang butuh sedikit pengorbanan agar kau mendapatkan apa yang kau inginkan sedari dulu. Waktu kecil kita sering bermain tukar posisi, sekarang mari kita bermain permainan yang sama untuk selamanya.


Senin, 10 Agustus 2020

KUSEMATKAN CINTA DALAM PENTIGRAF

 

Oleh: ALFANI RISMAENITA

          Namaku Vina, siswa baru yang sedang jatuh cinta dengan teman barunya. Dulu, kupikir tidak ada kata cinta pada pandangan pertama. Kukira cinta semacam itu hanya sebuah cerita fiksi yang hanya terdapat di komik atau novel romance. Sampai akhirnya, cinta itu jatuh padaku. Namun sayangnya cintaku bisu, selama ini dia hanya bisa diam. Dia selalu bersembunyi dibalik kata “gengsi mengungkapkan rasa”. Kisah ini berawal dari kali pertama bertemu dengan dia. salah tingkah aku dibuatnya, hampir saja aku menabrak gerbang sekolah baruku karena senyumannya. Laki-laki itu datang dengan senyum yang membuat jantungku menari ditempat. Mungkin kalimatku terlalu alay untuk dibaca, namun itulah kenyataannya.

        Awalnya kami hanya berbincang via whatsapp, karena memang saat ini proses pembelajaran hanya berlangsung secara daring karena pandemi yang berlangsung. Namun karena suatu kesempatan kami bertemu untuk pertama kali di sekolah. Aku bukan tipe wanita yang mudah jatuh cinta, tapi laki-laki itu hebat! Dia membuatku jatuh sejatuh-jatuhnya. Setelah pertemuan itu, sepertinya dia tak merasakan apapun, bahkan mungkin setengah dari perasaanku padanya enggan ia balas. Namun syukurlah, setelah pertemuan itu kami masih sering berkomunikasi, walau hanya berdiskusi tentang tugas atau hanya mengajak untuk bermain game online bersama. Aku memang ahli dalam menyembuyikan perasaan, dan sampai saat ini Alhamdulillah!! Perasaanku masih kuat bersembunyi.

        Mungkin dia sedang membaca pentigraf ini. Dan mungkin saja dia paham, bahwa laki-laki yang sedari tadi kusebut adalah dirinya. Namun jika benar ia tau semua ini tentang dirinya, kuharap ia berpura-pura tidak tahu saja tentang perasaanku padanya. Aku tidak ingin sebuah pertemanan rusak hanya karena kata cinta. Dan untuk diri sendiri, mari kita bangkit dan berjuang sekali lagi. Berjuang untuk menyimpan perasaan yang sudah lama bersembunyi. Biarkan... biarkan saja cinta itu tersemat dalam pentigraf ini.

 

Minggu, 02 Agustus 2020

TUNGGU AKU DISURGA

 



                                               Oleh: ALFANI RISMAENITA

         Musim dingin telah tiba di Gaza, Palestina. Aku tak tahu harus kemana. Aku lapar! Aku kedinginan! Rumahku telah rata dengan tanah sama seperti bangunan-bangunan yang lain. Negeriku hancur berantakan, masa kecilku telah dibunuh. Orangtuaku?? Mereka sudah tenang di surga karena syahid di peperangan melawan penjajah. Penjajah itu datang dan tiba-tiba mengatakan tanah airku ini miliknya. Tanahku terbakar, tanahku dicuri kebebasannya. Dimana kibasan sayap merpati, yang dahulu selalu ada di langit Palestina?

      Malam telah tiba, makanan sudah ada dibagikan. Namun, untuk mendapatkan sebungkus roti, kita harus berebutan. Dan malam itu, Alhamdulillah!! Aku kebagian sebungkus roti. Aku mencari tempat yang nyaman untuk menyantap roti ku. Tiba-tiba, aku melihat anak yang kira-kira usianya 2 tahun lebih muda dariku. Tubuhnya kurus sekali, dia hanya duduk diam disampingku, dia selalu melirik kearah rotiku. Kurasa ia juga sama laparnya denganku, kupotong roti itu lalu kuberikan padanya setengah. Matanya berbinar menerima roti itu, “Shukraan‘ ukhti” ucapnya lirih. Sejak kejadian itu kita terus bersama-sama. Kita selalu mencari makan bersama-sama dan memakannya bersama juga. Namanya Aisyah,  dia sudah seperti adik kandungku sendiri. Dia sering berkata kepadaku “Aku rela mati demi tanah airku”. Atas dasar prinsipnya itu, dia sangatlah berani melawan siapapun yang ingin menghancurkan negaraku, walaupun mungkin dia sendiri juga tahu bahwa kekuatannya seorang diri tidak ada apa-apanya dibandingkan penjajah laknatullah itu.

          Suatu petang di Gaza, Palestina. Kembali lagi penjajah-penjajah itu menyerang. Nyawa tidak lagi dihargai dan dipedulikan. Manusia-manusia jatuh bergeletakan. Paramedis berjas putih dibalut dengan darah itu mondar-mandir memberi pertolongannya tanpa peduli dengan dirinya sendiri. Aisyah melepaskan diri dari pelukanku, anak manis dengan keberanian penuh itu mengambil sebilah bambu dan mengikatkan bendera kami diatasnya. Majulah dia kedepan para penjajah itu, sambil mengibarkan bendera yang dipeganginya. Orang-orang meneriakinya agar segera mundur, namun perkataan itu tidak didengar olehnya. Ia hanya berteriak dan terus berteriak “Negaraku, milikku. Dan tidak akan kubiarkan siapapun dari kalian menghancurkan Palestinaku”. Sampai akhirnya, salah satu dari penjajah itu menembakkan senapannya. Peluru dari senapan itu mendarat tepat mengenai dada bagian kiri Aisyah. Mungkin karena tak kuat menahan sakit, tubuh kecil yang malang itu akhirnya rebah diatas tanah. Syahid dipeperangan, semoga surga untukmu saudariku, tak kuasa aku menahan airmata melihat kejadian itu didepan mata. Akan kuteruskan keberanianmu, tunggu aku disurga.


Minggu, 26 Juli 2020

KILLER IN HOUSE



Oleh: ALFANI RISMAENITA

WARNING!! JANGAN BACA CERITA INI SENDIRIAN DI MALAM HARI!!!

       Ahh tidak!! Aku dikejar deadline Bahasa Indonesia. Kulihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 10 malam. Segera ku ambil laptop dan buru-buru membuat pentigraf, cerita pendek 3 paragraf yang disuruh oleh guru Bahasa Indonesiaku agar dikumpul segera. Kata demi kata keluar dari pikiranku, akhirnya selesailah satu paragraph. Aku istirahat sebentar, melakukan sedikit peregangan agar aku tidak terlalu lelah. Saat ingin melanjutkan pentigraf tiba-tiba aku sudah berada di sebuah ruangan yang sangat familiar bagiku. Yaa!! Ini adalah dapur rumahku.

        Namun, betapa terkejutnya aku melihat seseorang yang tidak kukenali karena wajahnya tertutupi oleh topeng yang dikenakannya. Manusia itu memegang mesin gergaji. Sebentar! Itu kan... Sepupuku!! Aku melihat sepupuku terbaring di lantai dapur. Kulihat kembali manusia bertopeng itu mendekati Winda, sepupuku. Ia menyalakan mesin gergajinya, lalu memotong-motong tubuh sepupuku hinga terbelah menjadi banyak bagian kecil. Percikan darahnya, sedikit mengenaiku. Dicungkilnya bola mata sepupuku, lalu dimasukkan kedalam gelas kecil. Aku tidak dapat menahan jatuhnya air mataku melihat kejadian tragis itu, namun aku juga tidak berani mengambil resiko. Aku yang berjalan pelan-pelan menuju ruang tengah, berharap tidak ketahuan oleh psikopat itu. Sesampainya diruang tengah, betapa terkejutnya aku melihat kepala tanteku tergantung disana, hanya kepala. Melihat hal tersebut tentu saja aku menangis sejadi-jadinya. Namun aku harus tetap survive disini. Aku mencari-cari ayahku, karena aku berpikir hanya aku dan ayah yang tersisa di keluargaku.

       Aku yang mendengar langkah kaki seseorang dari dapur menuju ruang tengah, sontak lari dan bersembunyi dalam lemari. Oh tidak dia mendekat, kututupi mulutku dengan tanganku berharap psikopat itu tidak mendengar suara nafasku dari dalam lemari. Psikopat itu benar-benar pintar dan kejam. Ia membuka lemari, dan mendapatiku disana, dipenggalnya kepalaku hingga terpisah dari badanku, Ohh Tidak!! Aku sudah meninggal! Air??? Air apa ini?? Samar-samar kudengar suara tanteku, “Fani, bangun Nak!! Sudah subuh... shalat sana!!” ucapnya sambil memercikkan air ke wajahku. Huhh... Ternyata hanya mimpi... aku terbangun dengan laptop yang masih menyala didekatku. Oh Tidak!!! Tugas Bahasa Indonesiaku belum jadi... Ini bahkan lebih buruk dari mimpiku...




Kamis, 23 Juli 2020

DIARY DEPRESIKU

  


Karya: Alfani Rismaenita

         Bagaimana rasanya jika orang yang menyuruhmu terbang tinggi, malah mematahkan sayapmu. Bagaimana rasanya jika seseorang yang menyuruhmu bermimpi malah ia yang mematahkan harapanmu akan mimpi tersebut? Aku lahir dikeluarga yang cacat. Diantara dua pihak yang saling menyalahkan. Yah, aku lahir diantara dua pihak yang saling melempar tanggungjawab terhadapku, anaknya. Diusiaku saat itu, yang masih dua tahun, aku malah lebih sering mendengar teriakan-teriakan kedua orang tuaku yang saling memaki. Ada apa sebenarnya? Aku juga tidak mengetahuinya. Sudah lama rasanya aku tidak merasakan kasih sayang ayah ibuku, hingga akhirnya aku dibawa  ke rumah saudari ayahku, tinggal dan menetap di pulau Sulawesi tanpa dampingan ibu. Sempat terlintas dibenakku sebuah pertanyaan yang sangat menggundahkan hati. Apakah ibuku sudah tak menyayangiku? Hahh... entahlah...

             Kadang aku iri dengan keluarga orang lain yang begitu harmonis. Selalu ada harapan dikepalaku agar keluargaku kembali bersama, tinggal di atap yang sama. Lagi lagi aku harus memeluk diriku sendiri tentang hal ini. Apa mereka tahu? Aku disini seringkali bingung untuk menentukan arah hidupku, sedangkan disana mereka hanya sibuk melempar tanggungjawab mereka sebagai orangtua dan berpikir bahwa yang aku butuhkan hanya uang. Namun mereka tak tahu, aku pernah berpikir untuk membayar waktu mereka hanya untuk mendengar ceritaku. Mereka hanya ingin tahu berapa nilai yang kudapat dari sekolah tanpa menanyakan perjuanganku akan nilai tersebut. Mereka tak pernah, bahkan tak ingin mengerti bagaimana perasaanku..

           Suatu waktu saat aku telah duduk di bangku SMP, aku membuat masalah besar disekolahku dan mengharuskan orangtuaku datang menanganinya. Mau tidak mau akhirnya ayahku datang dan berbicara dengan guruku tentang ulah nakalku di sekolah, aku tahu dia pasti akan marah padaku setelah ini, tapi aku tak pernah menebak bahwa ia benar-benar tidak lagi mengajakku berbicara dalam waktu yang lama. Kukira semua masalah ini berawal dari diriku sendiri, berawal dari aku lahir ke dunia. Tapi kini aku sadar, bahwa kelahiranku bukanlah sebuah kesalahan. Hanya saja, situasi baik tak pernah berpihak kepadaku. . Kini aku tumbuh menjadi remaja pada umumnya, tinggal dengan ayah dengan sikap dingin yang luar biasa. Semakin dewasa aku semakin terbiasa dengan hidupku yang sekarang, hidupku tanpa sosok seorang ibu. Kini aku tumbuh menjadi wanita yang berhati tegar, aku harus berpikir positif, bahwa diujung jalan sana, kebahagiaan telah menungguku. Yang rusak hanyalah sebuah catatan di kartu keluarga, bukan aku.


Jamu dengan Segudang Khasiat

  By: Nasyri’ah Nur Aisyah    Apasih yang pertama kali terlintas dipikiran kalian setelah mendengar kata 'jamu'? Dalam Peraturan Men...