Senin, 28 Agustus 2023

Mendeskripsikan politeknik kesehatan Kemenkes Makassar wilayah Tidung

Politeknik Kesehatan Makassar (POLKESMAS) berdiri berdasarkan SK. Menkes-Kessos No. 298/Menkes-Kessos/SK/2001 tanggal 16 April 2001 yang mengintegrasikan 7 akademi terpisah di Makassar yaitu Akademi Kesehatan Lingkungan; Akademi Perawat, Akademik Gizi, Akademi Fisioterapi, Akademi Farmasi, Akademik Kebidanan, dan Akademi Kesehatan Gigi. Politeknik kesahatan makassar, memiliki kampus yang terletak di berbagai daerah di kota makassar salah satunya terletak di  Jl. Bend. Bili Bili, Karunrung, Kec. Rappocini, Kota Makassar, Sulawesi Selatan. 


    Untuk Kampus Politeknik Kesehatan

 kampus Tidung sendiri terdapat 3 jurusan yang terdiri dari jurusan Keperawatan, jurusan keperawatan gigi dan jurusan kebidanan. oleh sebab itu ada banyak sekali bangunan dan gedung yang terdapat di polikesmas kampus tidung yang terdiri dari gedung A, gedung B gedung  C, gedung D kantin, Perpustakaan, Gedung D IV, Gedung Jurusan Keperawatan Gigi, Jurusan Kebidanan, Taman, Aula Abullo Sibatang, Auditorium, Musholla, Gedung Pegawai dan Dosen.

Yang pertama ada gedung A. Dimana Gedung A ini terdiri dari dua lantai yang di mana pada lantai 1 itu terdapat lab keperawatan anak, lab Biomedik, papan pengumuman, lab keperawatan dasar, lab KMB, ruang pengenalan alat, sentral alat dan toilet. Dan di lantai 2 terdapat beberapa ruangan. Pada bagian depan Gedung A terdapat taman yang luas dan rindang di bagian belakang gedung A itu terdapat jurusan kebidanan, Gedung D dan aula. Kemudian pada bagian samping gedung A terdapat perpustakaan terpadu.

Yang kedua ada Gedung B. dimana, Gedung B ini sendiri terdiri dari dua lantai di lantai pertama itu terdapat lab keperawatan gawat darurat, lab jiwa lab maternitas, lab diabetik, lap Theater atau simulasi. Dan pada lantai 2 terdapat beberapa ruangan. Di samping kiri Gedung B terdapat perpustakaan terpadu. Di bagian depan Gedung B terdapat taman dan pada bagian belakang terdapat jurusan keperawatan gigi, parkiran dan gedung C.

Yang ketiga ada gedung C. Dimana Gedung C ini terdiri dari dua lantai. Di lantai pertama terdapat ruang kelas untuk tingkat 1 dan pada lantai 2 terdapat ruang kelas untuk tingkat 2 Prodi keperawatan. Di bagian depan gedung C, terdapat sebuah lapangan yang sering dijadikan sebagai tempat senam bagi mahasiswa jurusankeperawatan yang dilaksanakan setiap hari Jumat pagi. Dan pada bagian belakang gedung C, terdapat sebuah parkiran yang sering digunakan oleh mahasiswa jurusan keperawatan gigi.

Yang keempat ada Gedung D yang terdiri dari dua lantai. Dimana pada lantai 1 terdapat ruang kelas Prodi D4 keperawatan tingkat 1 yang terdiri dari kelas A dan kelas B serta terdapat juga ruang sekretariat HMJ keperawatan. Pada bagian depan gedung utama D terdapat parkiran untuk mahasiswa serta parkiran untuk dosen dan juga terdapat musholla. Di bagian belakang terdapat Aula dan juga auditorium.

NAMA KELOMPOK:

1.SRI ANNISA (PO713201231033

2.ANDI MUTIAH ZULFADHILAH. Y

 (PO713201231006


Jumat, 25 Agustus 2023

One Fine Day

 



Oleh : Fadhilah Putri Arina

Pagi yang sangat sunyi, seperti biasa, aku hanya memandangi fajar yang sama dan ditempat yang sama. Sebuah pertanda berawalnya cerita. Melewati kegelapan di mana-mana. Menunggu datangnya senja. Sementara suara gemuruh terdengar begitu nyaring. Aku tidak peduli. Jariku tetap mengikuti pola gambar di atas kertas putih itu. Diiringi alunan melodi piano yang berasal dari speaker mini di atas meja.

Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00. Gambar ini aku putuskan akan kulanjutkan di sekolah. Aku segera berangkat ke sekolah. Menggantungkan ransel di lenganku dan segera berlari. Aku mendengar panggilan itu.

“Letta!.” Panggil mama.

Sengaja kuhiraukan. Malas untuk berbicara dengan mama pagi ini. Lagipula aku harus kesekolah. Aku takut akan terlambat.

~~~

                “Pagi Gara!.” Teriakku pada Gara yang sedang memainkan ponselnya.

                “Aaa.....Letta, aku fikir siapa. Bikin kaget saja.” Balas Gara dengan wajah kagetnya yang sangat lucu bagiku.

                “Hehe...maaf! Hanya menyapa saja.” Lanjutku dengan sedikit tertawa.

                Basgara Yudha. Sahabatku paling setia, sejati, selamanya dan terbaiklah pokoknya. Sahabat yang sangat perhatian dan peduli padaku. Persahabatan kami dimulai sejak SMP hingga menginjak SMA seperti sekarang. Bagaimana pun keadaanku, Gara selalu ada. Pertemanan antara wanita dan pria selama empat tahun, bagi orang-orang bukan tidak mungkin tidak ada rasa suka. Tapi aku dan Gara benar-benar hanya Sahabat. Bahkan ia sudah kuanggap sebagai kakakku sendiri.

                “Letta, kamu baik-baik saja?” Tanya Gara yang terlihat bingung melihatku mengeluarkan alat gambarku dan hendak melanjutkan gambarku tadi pagi.

                “Baik.” Jawabku singkat.

                “Aneh saja, setelah sekian lama bungkam dari hobi mu ini, tiba-tiba saja kamu mulai melukis lagi.” Lanjutnya.

                “Aku hanya ingin memulai semuanya dari awal, salah?” Balasku.

                “Tidak, tidak sama sekali, malah aku senang.” Kata Gara sambil tersenyum lebar padaku. Dan hal itu membuatku tertawa geli.

                Bel istirahat akhirnya berbunyi. Hal yang sangatku tunggu sedari tadi. Entah sejak peristiwa itu, aku sedikit berubah. Mulai sering banyak makan. Banyak tidur dan suka menghabiskan waktu dikamar juga di kantin sekolah. Tentu aku tidak sendiri. Selalu saja ditemani my true friend , siapa lagi jika bukan Gara.

                “Gara, kantin yuk!” Ajakku pada Gara yang tengah sibuk mengerjakan tugas.

                “Buat apa....aku sibuk!” Jawab Gara sedikit jutek.

                “Ayolah! aku lapar Garaa...” Pintaku dengan nada sedikit berubah.

                Akhirnya ia mau juga. Aku tahu sesibuk apapun Gara, dia pasti akan menuruti perkataanku. Hal itulah yang membuatku lebih betah di sekolah daripada di rumah. Perbandingan yang sangat jelas.

Dulu aku pernah sangat suka menghabiskan waktu dirumah. Tetapi, semenjak perceraian mama dan ayah, aku sangat terpukul. Terlebih lagi aku adalah anak semata wayang. Suatu hal yang tidak pernah aku bayangkan sama sekali akan terjadi di kehidupanku. Entah apa yang membuat orang tuaku memilih jalan hidup drama seperti ini. Semuanya sudah terjadi. Aku harus menjalaninya.

Hari ini aku mengajak Gara kerumah. aku hendak memperlihatkan karyaku yang selama ini telah aku kerjakan.  Sekaligus membantuku mempersiapkan diri menghadapi kompetisi melukisan yang akan kuikuti. Kebetulan sedang ada event yang akan digelar dalam waktu dekat ini.

“Mama kamu kemana?” Tanya Gara sesaat setelah tiba di rumah.

“Tidak tahu!” Ketusku .

Aku bisa melihat ekspresi Gara yang tidak suka mendengar jawabanku. Salah satu orang yang menentang pemberontakanku adalah Gara. Hakku untuk bersikap seperti ini. Ia tidak bisa memaksaku. Aku yakin Gara pasti mengerti. Apalagi mama adalah orang yang sangat sibuk sampai tidak punya waktu untukku. Mungkin hal itu pula yang menjadi pemicu perpisahan orang tuaku.

“Aku muak dengan pembicaraan orang di sekelilingku!” Kataku pada Gara sambil memegang salah satu lukisanku.

“Kamu tahu, tekadang memiliki sifat `Masa Bodo’ itu diperlukan. Khususnya ketika lisan manusia mulai menyakitimu. Kita tidak akan dihisab oleh perkataan mereka.” Ucap Gara padaku.

“Semua ini karena mama. Karena terlalu sibuk, sehingga aku yang harus menanggung semua. Rasanya benar-benar sakit mendengar pembicaraan tetangga mengenai keluargaku. Gara tidak tahukan bagaimana rasanya.” Lanjutku dengan nada yang cukup tinggi.

“Percaya saja, Tuhan menggenggam semua doa, kemudian dilepaskannya satu persatu disaat yang paling tepat.” Ucapnya lagi, yang membuatku tenang seketika.

“Terima kasih Gara, selalu bisa membuatku tenang. Aku terkadang merasa bingung, mengapa aku tidak bisa menyukai pria sepertimu.” Kataku.

“Tenang saja. Setelah semua ini selesai, harapanku perasaan ini juga selesai. Sama seperti semula, bahwa semua ini tidaklah berarti apa-apa. Hanya sebuah pertemanan yang menyenangkan bahwa kita bisa saling mengenal dan menjalin persahabatan.” Ungkap Gara yang membuatku terdiam.

“Maaf.” Satu kata yang hanya bisa aku berikan pada Gara.

 

~~~

Malam ini aku sendiri lagi. Mama belum juga pulang dari kantor. Atau bahkan dia sudah lupa bahwa mempunyai seorang anak di rumah. Tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang memasuki garasi. Aku berprasangka bahwa suara mobil itu milik mama.

“Mama dari mana saja? Mama lupa sekarang sudah jam berapa?” Tanyaku pada mama dengan nada tinggi.”

“Maaf sayang, tiba-tiba saja tadi ada rapat mendadak, mau tidak mau mama harus lembur.” Jawab mama yang membuatku berfikir hal itu hanyalah sebuah alasan.

“Aku lelah ma!! Setiap hari menjadi bahan pembicaraan orang-orang di sekolah, bahkan tetangga juga cerita. Lagipula, kapan mama punya waktu untuk Letta?” Balasku dengan terseduh.

Aku sangat muak malam itu. Aku berlari menuju dapur dan mengambil pisau diatas meja. Sontak mama dan pembantu di rumah panik melihat apa yang aku lakukan. Aku sudah di luar kesadaranku. Tetesan darah mulai  mengalir secara perlahan dari telapak tanganku. Mama tidak bisa menghentikanku. Terlanjur sudah aku goreskan ujung pisau ini ditelapak tanganku.

Pagi ini terasa sangat berat untuk membuka kelopak mataku. Aku merasakan perih di bagian tangan kananku. Ternyata malam itu, aku tidak sadarkan diri. Mama membawaku kerumah sakit. Orang yang pertama kali kulihat saat membuka mata adalah Gara. Seperti dugaanku raut wajah Gara pagi ini sedikit berbeda. Entah mengapa aku merasa takut.

“Kamu gila ya? Kamu tahu, apa yang sudah kamu lakukan?” Tanya Gara dengan raut wajah bingung sekaligus marah.

 “Bagaimana kamu bisa mengiikuti kompetisi dengan keadaan seperti ini!” Lanjut Gara.

Aku memalingkan wajahku, menghindari kontak mata dengan Gara. Ia tidak paham dengan apa yang sedang aku rasakan. Yang bisa aku lakukan hanyalah meminta maaf. Aku tahu dengan keadaan seperti ini akan sulit bagiku untuk mengikuti kompetisi.

Setelah hari itu aku mulai  mencoba untuk melukis kembali. Awalnya sangat sulit. Akan tetapi aku tidak menyerah, aku terus mencoba. Tiba –tiba Gara datang entah dari mana dan langsung merebut pensil ditanganku. Aku terkejut.

“Gara, kenapa diambil pensilnya?” Tanyaku kesal.

“Kamu lupa?, tangan kamu sedang sakit letta!” Jawabnya.

“Alasan dibalik mengapa aku melupakan banyak hal adalah karena memang daya ingatku lemah. Terkadang itu membuatku bersyukur, karena dengan mudah melupakan banyak rasa sakit.”

“Bicara kamu tidak rasional! Sudah, ayo ikut aku.” Balas Gara dan langsung menarikku pergi.

Gara membawaku keluar. Aku tidak tahu dia ingin membawaku kemana. Aku sangat kebingungan.

“Kenapa di restoran? Aku sudah makan tadi.” Tanyaku yang kebingungan.

“Siapa bilang kita akan makan di sini? Sudah, duduk!” Paksa Gara padaku.

Seseorang terlihat berjalan menuju ke arah kami. Aku sangat terkejut melihat siapa yang datang. Abenk Alter, seorang seniman muda yang selama ini aku kagumi. Aku tidak pernah menyangka akan bertemu dengannya. Anganku sekarang menjadi nyata. Semuai berkat Gara. Hari itu aku sangat bahagia. Bisa menerima banyak pelajaran dari Abenk yang sangat menginspirasiku.

                “Kamu dari jalan sama Gara kan? Bagaimana, menyenangkan?” Tanya mama yang tiba-tiba saja masuk kekamarku malam itu.

                “Bukan urusan mama!” Jawabku ketus.

                “Sampai kapan kamu akan bersikap seperti ini? Mama melakukan semua ini, demi kamu Letta!” Ucap mama meyakinkanku.

                “Aku hanya ingin mama selalu ada untuk aku, hanya itu.”

                Aku sangat ingin menceritakan semuanya kepada mama. Aku ingin mama tahu aku mengikuti kompetisi melukis dalam waktu dekat ini. Aku ingin mama tahu bahwa aku mengaharapkan kehadirannya dihari perlombaan nanti. Tapi sepertinya hal itu tidak mungkin terjadi. Menghabiskan waktu di rumah saja sangat sulit ia lakukan. Bahkan, aku menjalani pemulihan pun ia tidak pernah ada di sampingku. Hanya Gara yang setia menemaniku.

 

~~~

Hari yang kutunggu akhirnya tiba. Aku sangat gugup. Untuk pertama kalinya aku mengikuti kompetisi sebesar ini. Sudah kupastikan, aku akan bertemu dengan pelukis-pelukis handal dan berpengalaman.

“Tenang saja, kamu pasti bisa!” Kata Gara menyemangatiku.

Suara risih itu terdengar ditelingaku dan juga Gara. Kumpulan manusia yang sedang berkomentar tentangku.

“Hhh...ternyata banyak diantara mereka yang umurnya saja yang bertambah, tapi pemikirannnya tidak berkembang.“ Ucap Gara tiba-tiba saja.

Entah mengapa aku merasa senang dan lega mendengar perkataan Gara sebelumnnya. Tapi tetap saja ada yang menjanggal. Andai saja ada mama di sini. Pasti semuanya sempurna. Gara langsung menyuruhku memasuki area perlombaan, karena sebentar lagi perlombaan akan segera dimulai. 

Aku mulai melukis. Tapi, entah mengapa rasanya berbeda. Tidak biasanya seperti ini. Aku merasa ada yang tertahan. Dari kejauhan Gara terlihat sedang menelpon seseorang. Tiba-tiba saja aku terdiam. Aku tidak menyangka dia akan datang. Mama terlihat tersenyum dan menyemangatiku dari kejauhan. Aku sangat senang. Ternyata mama bisa meluangkan waktunya untukku. Akhirnya aku bisa melanjutkan lukisanku.

Hari itu menjadi hari yang sangat berkesan bagiku. Meskipun tidak menang, aku tetap bahagia. Ternyata mama masih sayang dan peduli padaku. Semua itu karena Gara. Dialah yang membuat mama bisa hadir di hari itu. Tentang Gara, kami tetap menjadi sahabat. Dengan rasa suka, sayang dan cinta sebagai sahabat.

Hai pagi. Hari ini aku mulai lagi perjalanan hidupku. Harapan yang baru, kisah yang baru, tawa yang baru serta semangat yang baru. Dan kepada malam, aku sangat berterima kasih karena telah menemaniku bersedih. Aku tidak akan takut untuk terjatuh lagi. Don’t stop when you’re tired, stop when you’re done.

~~~

Rabu, 13 Januari 2021

Yang Tak Kekal


  Oleh: Nasyr'iah Nur Aisyah 

   Pagi ini hari baru bagiku. Suasana pagi yang tenang tergambar oleh mentari yang mulai menampakan sinar nya di temani oleh tetesan air yang menggantung di ujung dedaunan, menetes jatuh ke genangan air di jalanan; serta kicauan riang burung-burung yang saling bersahutan, beberapa burung lainnya merentangkan sayapnya menyelami luasnya langit biru.

   Disinilah aku berada, disebuah ruangan bercat serba putih dan berbau obat-obatan, disinilah aku akan menghabiskan sisa hidupku. Tepat disebelahku ada sepasang jendela yang sangat lebar, disana terlihat jelas orang-orang yang sedang berlalu lalang ada yang berjalan terburu-buru ada pula yang tertawa bersama-sama, sangat jauh berbeda dariku. Aku sangat iri kepada mereka.

   Hari demi hari kulalui namun tak ada tanda tanda aku akan membaik atau mungkin hanya semakin memburuk?. Aku sangat benci dengan selang-selang kecil yg terhubung ke tubuhku, ini sangat menyiksaku. Sayup-sayup kudengar beberapa langkah kaki memasuki ruangan ini dengan tergesa-gesa segera mengecek keadaanku, aku tidak tahu apa saja yang mereka lakukan aku terlalu lemah bahkan hanya untuk membuka mata. Apapun itu aku pasrah, aku sudah bertahan selama yang aku bisa mungkin ini waktunya untuk aku menyerah


Senin, 07 Desember 2020

Nostalgia Hati

 Oleh: Nur Suci Qalbi. M

Seperti hal-nya rintik hujan, yang kehadirannya dirindukan setiap insan. Seperti sayup-sayup melodi, yang hadirnya meninggalkan bekas tak kunjung hilang,  Itulah kamu. Kamu, yang tak ku sangka pernah menjadi bagian dalam hidupku. Bagian dari tawaku, dan bagian dari kesedihanku. Kamu yang hangat, membuat sang mentari pun lupa untuk menyuguhkan sinarnya itu. Kesejukan yang kau berikan, membuat siapa saja mendambakan hadirmu.

Tapi sekarang kita yang dulu selalu bersama sudah lepas. Kau yang dulu pernah menjadi Hariku, sekarang tidak lain hanyalah orang asing yang bahkan tidak tahu namaku. Mungkin dulu itu bukan salahmu atau salahku, tapi salah kita karena mendahulukan ego sesaat yang membuahkan kata penyesalan. Sekarang ku tersadar, bahwa diriku sangat bahagia mengenalmu. Kenangan yang dulu membekas di hati seakan memaksa keluar tuk disambut kembali. Entah apa yang akan datang hari esok, Entah apa yang akan terjadi hari esok, Entah badai apa yang akan menghantam hari esok, Dan entah bunga apa yang akan bermekaran hari esok

Tak ada yang pasti tentang yang akan datang, Namun yang pasti adalah hari lalu dan saat ini, Yang masih kuhabiskan dengan hidupku. Sedikitnya melepas beban ini dengan sebuah kata yang kurangkai indah malam ini dan sedikit tangis kecil yang membasahi pipi, tak lupa tambahan hati sedikit membawa ilusi juga musik yang tergiang-ngiang di telinga, baik itu kanan atau kiri serta bayangan kau ada disini, Namun ku tau itu hanya bayangan yang ku harapkan ada disini, Harapanku saat ini, semoga kita bisa sama sama belajar dari setiap penyesalan yang kita sesali, dan juga bangkit dari kegagalan yang kita Alami. 


Kamu dan perpisahan

Karya : Nurhalisah           

                 Jadi beginikah perasaan seseorang sebelum mengalami perpisahan?” tanya wanita itu kepada kekasihnya, di sebuah bangku taman yang melingkar, di bawah sinar bulan, bersama angin, bersama dingin. Angin meminta mereka untuk saling menggenggam tangan. Dan dingin meminta mereka untuk jangan sampai saling melepaskan.Tenang saja, pada setiap malam akan selalu kukirimkan mimpi untukmu.”“Bagaimana caranya?”“Tunggu sampai kita saling meninggalkan, dan kita akan tahu bagaimana mimpi-mimpi itu bekerja.”Sementara sinar bulan perlahan mulai memudar, seakan-akan memberi kesaksian bahwa ia sudah bosan karena terlampau sering melihat sepasang kekasih yang akan mengalami  perpisahan. Sungguh bulan yang sentimentil.“Sebentar lagi.”“Masih kurang dua menit.”Dua menit. Setelah kebersamaan yang mereka alami dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, kini hanya tersisa dua menit saja? Apa yang bisa dilakukan dalam waktu sesempit itu?                    “ Sepertinya aku ingin menghentikan waktu.”           “Aku pun begitu.”                                                         Tapi waktu masih bergerak. Detik-detiknya masih terus berdetak.Dan sepertinya, dalam hati mereka hanya tersisa suara denyut-denyut kegelisahan, sehingga yang hanya bisa mereka lakukan dalam satu setengah menit terakhir adalah saling menatap satu sama lain. Dan...perpisahan pun terjadi. Wanita itu yang lebih dulu pergi meninggalkan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Karena wanita itu tahu, ketika ucapan itu keluar dari mulutnya, maka akan membuat air matanya semakin deras mengalir. Sedangkan laki-laki itu hanya bisa melihat punggung kekasihnya yang pelan-pelan mengecil, menjauh bersama angin, bersama dingin, kemudian benar-benar hilang dan menyatu bersama gelap malam.Laki-laki memang tidak menangis, tapi hatinya pasti teriris. 

***

                  Tapi mereka bukanlah pasangan pertama yang berpisah dalam keadaan masih saling mencintai. Maka tak ada yang spesial. Hanya sebuah perpisahan pada umumnya yang memaksa manusia kembali menggunakan kesedihannya. Kita tahu, waktu memang tidak bisa berhenti. Tapi waktu bisa diputar kembali. “Kita bisa pergi dari kota ini, bersama-sama, dan memulai hidup yang baru,” ucap laki-laki itu kepada kekasihnya, beberapa jam yang lalu. Mereka duduk pada sebuah bangku taman, di bawah sinar bulan yang keperak-perakan.               “Ke mana?” “Ke sebuah tempat di mana bulan tak akan pernah pudar, di mana waktu akan berhenti pada malam hari, dan tak akan pernah menjumpai pagi, hanya untuk kita berdua. Dan kau bisa melakukan apa saja yang ingin kau lakukan.”              “Kau berlebihan dalam berkhayal, mana ada yang seperti itu!”

“Ada.”

“Di mana?”

“Di dalam pikiranku, di dalam kepalaku.”

“Ah, ada-ada saja. Kau terlalu banyak membaca cerita surealis.”

“Loh, aku serius.”

“Coba buktikan! Aku ingin melihatnya sendiri.”

“Pertama, kau harus menutup matamu.”

Maka wanita itu pun mengikuti apa yang dikatakan kekasihnya. Memejamkan matanya dengan perlahan. Menarik ujung bibirnya sehingga dengan alami membentuk lesung di pipinya. Ada subuah perasaan yang sungguh sulit diutarakan oleh seorang laki-laki yang saat itu sibuk memandang sebentuk wajah manis milik kekasihnya. Sungguh begitu dekat sehingga laki-laki itu lupa dengan janjinya sendiri.

“Mana?”

“Eh, iya. Tunggu, sebentar lagi.”

“Ah, lama.”

Sebenarnya laki-laki itu bingung harus berbuat apa. Tentang kota yang katanya ada dipikirannya itu hanyalah bentuk dari sebuah pengalihan untuk menghibur kekasihnya yang baru saja bertengkar dengan Tunangannya. Ya. Wanita itu sudah memiliki tunangan yang jodohkan oleh orang tuanya. Dan laki-laki yang saat ini sedang duduk di sampingnya adalah pacarnya yang sudah 5 tahun. Tapi tunggu dulu, cerita ini belum selesai.

“Kedua, bayangkan, kini kau sudah berada di depan pintu masuk. Pintu itu berwarna merah. Sekarang kau bisa langsung membukanya,” ucap laki-laki itu sambil membelai rambut kekasihnya.

Wanita itu masih tersenyum. Masih dengan lesung pipi yang membuat seseorang di hadapannya semakin terpesona.

“Aku sudah masuk. Kau di mana? Sejauh mata memandang, aku hanya melihat hamparan bunga.”

“Itu bukan bunga, Sayang. Tapi itu air mata. Air mata itu berkumpul sehingga terlihat seperti hamparan bunga.”

“Ah, kan sama saja.”

“Ayo cepat cari aku.”

“Bagiamana caranya?”

“Kau hanya perlu berlari menyusuri jembatan besar di depanmu itu. Kemudian lewatilah hamparan bunga itu. Setelah itu kau akan menemukan sebuah rumah kecil di sudut kanan pandanganmu. Rumah itu berwarna kuning. Kau harus cepat, karena kabut sedang bergerak dari arah berlawanan. Jika kabut itu sudah memenuhi kota ini, kau akan tersesat.”

Begitulah mereka, sepasang kekasih yang hubungannya rumit, yang tak diterima oleh kenyataan. Namun setabah apakah laki-laki yang sudah menjadi kekasihnya selama 5 tahun itu?

Percayalah, selama bulan masih bergerak, seorang laki-laki memang diciptakan untuk membahagiakan wanita. Maka laki-laki itu, secara kemanusiaan, sama sekali tidak bersalah ketika dengan sepenuh hati mencintai seorang wanita yang telah dijodohkan dengan orang lain. Yang jelas jelas tidak di cintai oleh wanita itu.

“Kenapa kau tidak mengatakan yang sebenarnya kepada orang tua mu saja” tanya laki-laki itu di waktu yang lain.

Tapi wanita itu hanya diam. Kemudian menangis. Seakan-akan ada sesuatu yang tak bisa ia ceritakan. Sikap diam itu seperti menjelaskan bahwa ia tak bisa berbuat apa-apa lagi. Dan untuk kesekian kalinya, laki-laki itu pun mencari pemahaman sendiri atas apa yang tak bisa wanita itu ceritakan.

“Sepertinya aku benar-benar tersesat. Aku tidak bisa menukan rumah itu. Sepertinya kita tidak akan pernah hidup bersama.” Wanita itu membuka mata. Kemudian pelan-pelan muncul air mata. Mengalir ke pipi. Jatuh satu demi satu sebelum akhirnya dibasuh oleh tangan kekasihnya. Ah, kenapa wanita selalu putus asa?

“Tunanganku sudah mengetahui keberadaanmu,” lanjut wanita itu, “aku tak mau terjadi apa-apa denganmu.”

Kini laki-laki itu yang diam. Oh, apakah khayalan mampu menyelamatkan kenyataan?

“Aku bisa bunuh tunangan mu!”

Entahlah, kalimat yang mengandung keputusasaan ternyata juga bisa keluar dari mulut laki-laki ketika ia merasa hatinya seperti tertusuk-tusuk duri tajam. Tapi kemudian laki-laki itu sadar diri.

“Maaf. Aku terlalu mendramatisir sesuatu. Jadi keputusan terbaik adalah berbisah?”

“Kau tahu, itu bukan keputusan terbaik.”

“Jadi?”

“Entahlah.”

Percakapan mereka tampak seperti sedang menawar sebuah barang. Tapi apakah cinta bisa ditawar?

Dan malam semakin malam. Tak ada percakapan lagi. Mereka hanya saling menatap mata. Seperti ada sesuatu yang sulit untuk diutarakan. Seperti ada sebuah bom di tenggorokan. Ah, cinta memang mengerikan.

***

             Waktu kembali seperti semula. Di mana sepasang kekasih itu benar-benar berpisah. Wanita itu sudah sampai di rumahnya. Sedangkan laki-laki itu masih duduk di bangku taman. Ia menatap langit. Pikirannya melayang jauh, ke sebuah kota di dalam kepalanya sendiri. Di kota di dalam pikirannya itu, ia duduk di beranda rumah yang ia bangun sendiri dengan air mata. Ia memandang langit yang sama, yang hitam dengan cahaya bulan keperak-perakan.  Sambil menatap awan yang membentuk bayangan kekasihnya yang sudah meninggalkannya. Senyum kekasihnya melayang-layang di kelopak matanya. Begitu dekat. Sisa parfum kekasihnya masih melekat di ujung hidungnya. Laki-laki itu semakin menikmati kehadiran bayangan kekasihnya. Semakin lama ia berkhayal, ia merasa ada kebahagiaan yang ia ciptakan sendiri dalam kepalanya. Dan semakin ia merasa berbahagia dalam khayalan, semakin tak ingin ia untuk sejenak keluar dari kota di dalam kepalanya sendiri. Apakah memang benar, khayalan mampu menyelamatkan kenyataan?


Maruala,7 Desember,2020

Rabu, 25 November 2020

Hancur

 Oleh: Maydivani Pratiwi

             Orang yang awalnya membuat aku berpikir bahwa dia yang saya cari, dia berbeda dengan orang sebelumnya, harus dia, hari ini telah meruntuhkan semua harapan itu dalam sekejap. Semua harapan yang kubangun dengan sedemikian rupa maupun bentuk, hancur oleh orang yang memberiku harapan itu. Semua yang kubayangkan akan terjadi di masa depan nanti bahkan sudah tak sudi lagi untuk singgah bahkan lewat di pikiranku, semuanya hancur lebur tak bersisa. Tak ada lagi harapan yang tersisa diotakku, semuanya tercerai berai seperti air yang ditumpahkan minyak. Dan kurasa memang dari dulu aku sudah tak pantas untuk membangun harapan, bahkan untuk mencobanya saja pun tak boleh, tapi aku tetap melakukannya.

            Semua yang kulakukan selama ini memang tak ada artinya dari awal, tak ada celah bagiku. Sebenarnya aku sudah mengetahuinya dari awal tapi aku menghiraukannya, kurasa memang takdirnya sudah seperti ini. Dia memang belum menjadi apa-apa, tapi bagiku itu sangaaaaatttt berarti, sudah seminggu, tidak terasa. Hari pertama kenal ia begitu manis, aku sampai tak bisa mengalihkan perhatianku padanya. Dia selalu manis tiap harinya, dan aku tak pernah melewatkan itu, semua kuabadikan dan kusimpan permanen dalam otakku lalu kuberi peringatan agar tidak ada orang yang boleh mengganggu gugatnya. Sampai pada akhirnya sebuah kenyataan yang bernama pahit itu berhasil masuk dan merusuh dalam memori itu, memorinya sudah rusak semua isinya masih ada namun tak berbentuk utuh. Kucoba merangkai lagi namun satu bulir air mata berhasil lolos, dasar payah, lemah.

             Hanya karena semuanya tak sesuai ekspektasi aku sampai seperti orang paling tersakiti (hari itu), sampai sekarang aku tak bisa berenti menyebut diriku lemah. Aku sudah berjanji tak ingin seperti ini lagi, tapi aku tak bisa mengelak dan aku tidak bisa munafik akan hal ini. Hari ini dia berhasil membuatku bagai orang paling bahagia saking bahagianya membuatku seperti orang gila, dan berakhir menjadi orang lemah (lagi). Saat ini aku hanya butuh istirahat, biarkan seperti ini dulu aku hanya lelah, bukan menyerah. Tapi dia hebat bisa meruntuhkan sesuatu dalam sekejap bahkan hanya dalam beberapa kalimat, apakah perlu kukasih penghargaan? kurasa tidak usah, nanti jadi besar kepala, huftt. Saat ini aku hanya bisa memandang jam yang terus berputar berharap dia berputar dengan cepat agar hari esok cepat tiba. Aku selalu berharap jika aku lemah hari ini, kumohon untuk hari esok aku langsung bisa melupakannya dan bisa menjalani hari dengan sangat baik. Ini sudah tengah malam cerita ini mungkin kupost besok saja, ditemani alunan lagu melow yang sebenarnya membuatku ingin menangis lagi tapi tetap kudengarkan, dan dengan charger yang tetap tercolok. Tanpa terasa sudah pergantian hari dan mata ini masih enggan untuk tertutup, mmm kurasa sebentar lagi aku masih ingin memikirkan sesuatu, jam 12:47, aku pamit.

Senin, 23 November 2020

GOODBYE

 Oleh: Nur Suci Qalbi. M

Kau datang bagai harapan, Membuatku menggapai dirimu, Membuat semuanya indah, Hingga aku lupa akan segalanya, dan Hari berlalu dengan begitu saja, Dihiasi canda tawa dan kebahagiaan, Membuatku lupa dengan semua masalah, Hingga aku mengabaikan mereka semua, Cara penyampaianmu membuatku terpukau, Perhatianmu itu mengalihkan duniaku, Sikapmu membuatku merasakan euforia, Kata kata manismu membuatku lupa sejenak, Semakin lama kelamaan kau berubah, jauh berbeda dari yang kukenal di awal, Entah perasaanku saja atau tidak, Aku bingung dibuatnya, Hingga aku selalu memikirkannya, Naifnya diri ini ketika berhadapan cinta, Bodohnya hati ini memilihmu, Kecewanya sikapku dengan diriku, Hingga tersadar itu hanyalah kebohongan belaka, Perasaan ini sudah mati sejak dulu, Bodohnya kau datang membawa harapan, Membawa segenggam mimpi indah, Lalu kau meraihku tuk menggapainya 

Tapi itu semua anganku saja, Diluar itu perasaan ini kembali sakit, Aku hanya gadis naif dan bodoh, Percaya kepada pangeran ilusi sepertimu, Perasaan ku kembali mati dan beku, Tidak ada cinta dan kasih sayang, Hati ku mati dan beku sejak ku kenal kau, Sekarang aku berbeda dari yang dulu, Aku tidak butuh seorang pangeran, Yang ku butuhkan kepercayaan, Mencari sosok yang ingin selalu kucari, Gelap dan sunyi teman setiaku, Tidak ada yang pernah merasakan cinta, Semua orang pasti mengalaminya, Tapi tidak bagiku sebuah pengecualian, Cinta dan Pengorbanan hanya sebuah penghalang.

Aku hanya berharap aku tidak merasakan sakit lagi, Bebas pergi kemanapun tanpa siapapun, Jati diri ku aku yang menentukan sendiri. Goodbye, Pangeran Tampan Ilusiku. Jika memang ini awal perjalanan maka biarkan seperti ini saja, Jika kamu memang jodohku kita pasti dipersatukan oleh waktu bukan luka, Kenanganmu tersimpan rapih dilubuk hati ini. Goodbye, Semuanya

Sabtu, 21 November 2020

NIKEN

Karya : Nurhalisah

            NamaNya Niken(Niken Nirmala) dia sangat terpukul saat Ogi, sahabat dekatnya, meninggal dunia. Kematian itu sangat mendadak. Tidak ada tanda berupa sakit atau sejenisnya. Keterpurukan ini membuat Niken putus asa dan hampir saja melakukan bunuh diri. Suatu ketika, Niken terkejut mendengar suara Ogi dari boneka orangutan. Boneka itu memang pemberian terakhir Ogi pada saat Niken berulang tahun. Walaupun kaget, saat melihat boneka itu, dia teringat masa lalunya bersama sang sahabat. Ogi memiliki mimpi yang tidak sempat ia capai, mimpinya adalah dia ingin pergi ke Azerbaijan, Tempat bahtera kapal Nabi Nuh dan pemandangan yang diliht pertama kali oleh Nuh ketika dia keluar dari kapalnya.

           Setelah merasa yakin kini Niken hendak pergi ke Azerbaijan. Dia hendak mewujudkan mimpi Ogi semasa hidup, untuk mencari tempat bahtera kapal Nabi Nuh itu. Dahulu, Ogi sangat ingin melihat pemandangan pertama yang dilihah Nabi Nuh saat keluar dari kapalnya. Sekilas tentang kisah Nabi Nuh, pada sebuah musim kemarau, Nuh mendapat perintah dari Tuhan untuk membuat kapal yang besar. Banyak orang yang mengolok-oloknya lantaran membuat kapal di musim kemarau dan di atas gunung. Hingga suatu hari pembuatan kapal selesai. Para pengikut Nabi Nuh dan berbagai jenis hewan menaiki kapal. Setelah itu terjadi banjir besar yang menenggelamkan pemukiman setempat. Nabi Nuh dan para pengikutnya selamat menggunakan kapal tersebut.

          Kembali  ke kisah Niken. Selama perjalanan, Niken membawa boneka orangutan pemberian Ogi. Walaupun itu benda mati, Niken merasa sangat dekat dengannya. Sayangnya, perjalanan menuju Azerbaijan tidak semulus dugaannya. Banyak kendala, mulai dari bahasa, pencarian tempat, dan hal-hal lainnya. Tapi Niken sudah berangkat dan bertekad. Dia tidak akan kembali sampai tujuannya tercapai. Ini salah satu keinginan terbesar Ogi semasa hidupnya. Niken ingin berusaha mewujudkannya. Setidaknya ini cara Niken untuk memberi kontribusi pada sang sahabat.

Maruala,21, November,2020


TERIMAKASIH~

Kamis, 12 November 2020

Pergi lagi

 Oleh:Gia Syahirah Amalia

Kesepian kembali melanda diriku,orang orang yang biasanya dekat dengan ku kini telah pergi menjauh meninggalkanku.Entah apa yang harus kulakukan untuk hal ini,kadang ku merasa aku ditinggalkan seperti ini mungkin karena ada hal yang baru pada dirinya.Semua orang sama, meninggalkan yang lama demi hal baru.Teman temanku seperti itu, mereka semua bersenang-senang tanpa diriku.Tertawa dan bercanda dan melupakanku.

Terkadang aku kecewa dengan mereka,tapi rasanya cuma percuma karena tidak ada satupun yang peduli akan diriku.Aku hanya duduk merenung dan mempertanyakan diriku.Apa yang salah dengan diriku sehingga semua yang dulu dekat dengan diriku kini telah pergi.Apakah kita tidak sepemikiran?Ya mungkin itu sebabnya mereka pergi meninggalkanku, mungkin mereka masih berpikiran seperti anak-anak.

Tapi sekarang aku telah merelakan mereka yang pernah pergi,aku tidak berhak melarang mereka.Semua orang berhak dan bebas menentukan kehidupannya selanjutnya,aku juga ingin menentukan kehidupanku di masa depan.Entah mereka masih mengingat ku atau pun tidak,aku akan tetap terus mengingat canda tawa mereka dulu.Aku tidak terlalu mengharapkan canda tawa itu kembali karena mereka bahagia dengan hidupnya.

Minggu, 08 November 2020

Kami yang Tak Didengar

 


Oleh: Nur Suci Qalbi. M

Bertahun-tahun para pahlawan berjuang dalam medan perang melawan para penjajah, di bawah cahaya matahari yang menyilau, di bawah rintik-rintik air yang deras, mereka Tak Kenal Menyerah, yang mereka tahu hanyalah mereka harus merdeka. Rakyat dipaksa bekerja tanpa upah, disiksa, bahkan dibunuh kapan saja, betapa kejamnya para penjajah, sama sekali tidak memiliki belas kasihan. Siang malam mereka lewati dengan letusan bom, tembakan senapan yang tak henti, serta ledakan meriam yang menggebu-gebu, bahkan tidur mereka pun tak bisa tenang, Demi membela kebenaran, hidup sejahtera dan mendapatkan Kemerdekaan, dan setelah ratusan tahun berjuang dengan pertumpahan darah, akhirnya mereka bisa mewujudkan impian negeri ini dengan membuat Jepang menyerah kalah dan memerdekakan Indonesia.

Tapi semua itu hanya kejadian puluhan tahun lalu, Sekarang negeri yang sudah susah payah dulu diperjuangkan, kini telah jauh berbeda, banyak para pemimpin sudah lupa, Mementingkan diri sendiri dengan aset negara, yang katanya wakil rakyat sekarang tidak lagi mendengar keluhan rakyat, membuat aturan yang jauh dari kata keadilan, sanubari melawan rasa ingin menolak, Jiwa kami serasa tak mau berhenti memberontak, berkumpul bersatu untuk menyerukan pendapat namun mulut-mulut kami tak didengar berteriak, dan otoritas hanya menyeru lantak. Ribuan suara ingin mengkritik, Tetapi semuanya dibungkam seakan tercekik, para petinggi negeri itu seperti tuli atas polemik, penuh alasan dan berdusta dengan cara cara licik.

Negeri ini di ujung kehancuran, pemuda yang berunjuk rasa diabaikan bahkan kembali di serang, sementara para wakil rakyat itu dengan enaknya, dengan santainya duduk dalam ruangan ber AC sambil menyilangkan kaki, tuli dengan apa yang terjadi diluar sana. Keadilan Hangus dibawa bayangan, petinggi petinggi itu hanya kiasan, bahkan tidak pantas untuk diberi kehormatan, membiarkan rakyatnya kesusahan, dan mereka tidak menghiraukan, apa yang harus kami lakukan? Haruskah kami membiarkan ini terjadi begitu saja, apakah kami akan hancur dengan sia sia? Banyak orang yang kelaparan, banyak orang yang tidak punya pekerjaan karena tidak berpendidikan, bisakah negara ini menjadi negera maju? Jika rakyatnya yang sudah susah ditambah makin jadi menderita. Tidakkah mereka ingat seberapa besar perjuangan pahlawan yang mati matian membangun negeri ini? Betapa sedihnya pahlawan kita melihat kondisi negeri kita saat ini. Cepatlah kembali Indonesiaku yang Dulu. 

Hari Bahagia

 Oleh: Nur Suci Qalbi. M

Pagi itu sangat indah, matahari bersinar sangat cerah, keadaan sekarang bak suasana hatiku yang sangat senang, karena hari ini adalah hari ulang tahunku, sejak dari rumah sampai di sini aku tidak berhenti tersenyum, berharap sampai di sekolah nanti ada sebuah kejutan dari teman-temanku untukku, dadaku berdebar-debar saat aku menginjak gerbang sekolah, dan saat aku melangkahkan kakiku untuk masuk ke kelas, di sana Aku melihat teman-temanku yang juga baru masuk ke kelas, Suasana kelasku pun tampak biasa saja dan kedua sahabatku, dinda dan arfi langsung menyapaku, tapi mereka semua hanya bersikap biasa biasa saja, sepertinya mereka lupa dengan hari bahagiaku ini, aku mencoba memancing kedua sahabatku itu dengan bertanya pada mereka itu, " eh Din, Ar, kamu tau tidak hari ini hari apa? " tanyaku, "Hmmm.. ini kan hari senin, memangnya kenapa?" balas arfi. "Haduuhh, kalau itu mah aku juga tau, Maksudku apakah ada sesuatu yang spesial pada hari ini atau tidak?" Jawabku pada mereka, "Tunggu aku pikir dulu, Hmmm..." jawab dinda sembari memegang dagunya, "Sepertinya tidak ada Deh" Ucap dinda lagi. Aku pun sedikit marah kepada mereka berdua, karena melupakan hari spesial ku ini, dan akupun langsung keluar dari kelas tersebut.

Tak lama kemudian Dinda dan Arfi datang menemuiku, mereka berusaha membujukku agar tidak marah terhadap mereka, tetapi aku hanya mengabaikannya, hingga bel masuk berbunyi, kami semua bergegas masuk ke kelas kembali untuk mengikuti pelajaran. Pada jam pertama kami masuk pada pelajaran bahasa Indonesia, dan ternyata guru mata pelajaran bahasa Indonesia kami tidak masuk, dan kami pun harus belajar sendiri di kelas, dan ada beberapa temanku yang memilih keluar kelas dan bolos pelajaran, Aku pun bingung melihat tingkah mereka, sebelumnya mereka tidak pernah melakukan hal ini, tetapi aku hanya mengabaikannya karena suasana hatiku saat itu sedang emosi karena tidak ada satupun teman kelasku yang mengingat hari ulang tahunku ini. Selang satu jam kemudian saatnya pergantian jam pelajaran, saat itu kami memasuki pelajaran bahasa Inggris, dan lagi-lagi guru mata pelajaran kami tidak masuk, dan tambah banyak lagi teman-temanku yang bolos dan keluar dari kelas, aku pun juga tidak menghiraukannya, dan akhirnya tinggal aku bertiga yang ada di kelas, cuma aku, dinda dan arfi. Aku semakin bingung dengan kelakuan teman kelasku itu. Seperti ada yang beda dari tingkah mereka hari itu. 

Sampai pada jam pulang, seharian penuh kami sama sekali tidak melakukan kegiatan belajar mengajar, mulai dari jam pertama sampai jam terakhir, aku pun makin bingung, Karena jarang sekali kami tidak belajar seperti ini dalam sehari, tapi aku hanya bisa diam, dan berusaha tidak peduli dengan kejadian hari ini, karena aku cukup kecewa dengan teman-temanku hari ini, tidak ada satupun dari mereka yang mengucapkan "selamat ulang tahun" kepadaku. Dinda dan Arfi yang biasanya selalu mengajakku untuk pulang bersama, hari ini tidak mengajakku pulang bersama lagi, entah kenapa?, tapi sepertinya mereka sudah pulang duluan, mungkin karena aku tidak mengajaknya bicara sejak tadi pagi. Dan aku pun terpaksa pulang sendiri dengan berjalan kaki. Sesampainya di rumah aku langsung melepas sepatuku dan menaruhnya di rak sepatu, betapa kagetnya aku melihat semua teman-teman dan guruku ada di dalam rumahku, mereka ternyata menyiapkan kejutan untukku, hatiku sangat senang, wajahku yang tadinya murung, saat masuk ke rumah menjadi sangat berseri-seri karena kejutan tersebut. pantas saja tingkah mereka semua di sekolah tadi sangat berbeda. Kami pun merayakan hari spesial Ku ini dirumahku dengan orang tua, guru dan teman temanku, Pada tahun ini adalah ulang tahunku yang tidak bisa aku lupa, hari ini tidak akan aku lupa seumur hidupku. Aku sangat bahagia hari ini. 

Jamu dengan Segudang Khasiat

  By: Nasyri’ah Nur Aisyah    Apasih yang pertama kali terlintas dipikiran kalian setelah mendengar kata 'jamu'? Dalam Peraturan Men...